Penyebaran Berita Benar dan
Berita Keliru (hoax) secara Online
Tulisan ini adalah interpretasi bebas dari artikel:
“The Spread of True and False News Online” yang dimuat di Science Mag di laman: http://science.sciencemag.org/content/359/6380/1146.
Terbit tanggal 9 Maret 2018.
Lihat juga artikel lainnya: https://sanjayaden.blogspot.com/2018/03/berita-palsu-darisudut-pandang-ilmiah.html
Teknologi sosial yang baru – yang
menyediakan akses untuk berbagi berita secara cepat, berjenjang, dan dalam
skala besar – dapat ditumpangi berita-berita palsu yang akan turut juga disebarkan
dengan cepat, berjenjang dan berskala besar pula. Dalam pemahaman logis, baik berita benar
maupun keliru (hoax) akan disebarkan dengan skala dan kekuatan yang sama
melalui teknologi sosial ini. Namun kita cenderung untuk tertarik pada berita
yang bombastis dan spektakuler dan menyebarkannya tanpa berpikir panjang apakah
berita tersebut benar atau palsu.
Suatu studi yang dipublikasikan
baru-baru ini dilakukan oleh Soroush Vosoughi dari Massachusetts Institute of
Technology (MIT) telah menelaah 126,000 berita yang di-twit oleh 3 juta orang
sebanyak 4,5 juta kali, yang disebarkan melalui Twitter periode tahun 2006 –
2017. Konfirmasi salah atau benar berita-berita tersebut diperoleh dari enam organisasi
pemeriksa fakta independen yang menunjukkan 95 – 98% keakuratan. Penelitian
tersebut memaparkan bahwa berita palsu (hoax) secara signifikan menyebar lebih
jauh, lebih cepat, lebih dalam dan lebih luas dibandingkan dengan kebenaran. Berita
palsu 70% lebih mungkin akan dibagikan kembali dibandingkan dengan berita benar. Efek
berita palsu lebih besar untuk topik kategori politik dibandingkan dengan
berita palsu kategori terorisme, bencana alam, sains, ataupun keuangan. Dalam pemaparannya, Vosoughi
mendapati berita kategori politik menempati porsi terbesar dalam penelitian
ini, yaitu sekitar 45,000 kaskade (cascade) berita. Cukup menarik mendapati
bahwa berita keliru ataupun hoax ditemukan memuncak pada tahun 2013 dan 2015 –
2016, berkaitan dengan pemilihan presiden Amerika Serikat.
Berita Palsu vs Berita Benar
Sekarang, apa yang
terjadi pada penyebaran berita palsu dibandingkan dengan berita benar? Vosoughi
memaparkan bahwa secara berkaskade berita palsu disebarkan oleh lebih banyak
orang di Twitter. Pengertian kaskade adalah: A menulis satu twit berita,
kemudian B meretwit berita tersebut, C meretwit dari B dan D meretwit dari C,
maka total ada 4 kaskade penyebaran berita. Berita keliru atau hoax di retwit lebih banyak
dari berita benar, yaitu sampai 19 kaskade (Grafik 2A). Sementara berita benar
paling banyak adalah 10 kaskade. Berita benar jarang tersebar melebihi jumlah 1,000
orang, sementara berita keliru menyebar antara 1,000 sampai 100,000 orang
(Grafik 2B). Orang juga terlihat lebih sering menyebarkan kembali berita keliru
dibandingkan menyebarkan berita benar, sehingga penyebaran berita keliru sangat
terbantu efek viralitas – di mana berita keliru lebih tersebar intensif pada
koneksi teman-ke-teman daripada melalui mekanisme dinamika siaran (broadcast).
Grafik 2:
Berita benar membutuhkan upaya 6 kali lebih
besar daripada berita palsu untuk mencapai 1,500 orang, dan 20 kali lebih
besar untuk mencapai kedalaman 10 kaskade. Namun karena berita benar tidak
pernah mencapai kedalaman lebih dari 10 kaskade, maka bisa dikatakan bahwa berita
keliru mencapai kedalaman 19 kaskade 10 kali lebih cepat daripada berita benar
mencapai kedalaman 10 kaskade (Grafik 2E). Berita palsu secara signifikan
disebaran lebih luas (Grafik 2H) dan di retwit oleh orang-orang baru di tiap
kedalaman kaskade (Grafik 2G).
Berita Politik Palsu
Berita politik yang keliru
tersebar lebih dalam (Grafik 3A) dan lebih luas (Grafik 3C), dan mencapai lebih
banyak orang (Grafik 3B). Berita kategori ini juga lebih viral dibandingkan
berita keliru dari kategori lainnya (Grafik 3D).
Grafik 3:
Juga berita politik palsu
ternyata tersebar lebih dalam dan lebih cepat (Grafik 3E) dan mencapai lebih
dari 20,000 orang hampir 3 kali lebih cepat dari tipe-tipe berita palsu lainnya
mencapai 10,000 pemirsa Grafik 3F). Menarik sekali mencermati bahwa berita
politik palsu ternyata tersebar lebih luas di kaskade yang lebih dalam,
dibandingkan berita palsu lainnya yang lebih luas tersebar di kaskade yang
lebih dangkal. Hal ini menunjukkan bahwa berita politik palsu ternyata memiliki
dinamika penyebaran yang lebih luas dan lebih cepat.
Karakteristik penyebar berita:
Kita patut menduga bahwa ada
faktor karakter individual dari pengguna Twitter yang berperan sehingga penyebaran
berita-berita palsu berlangsung lebih cepat dari berita benar. Kita bisa
berasumsi mereka yang menyebarkan berita palsu mengikuti lebih banyak orang dan
mempunya pengikut yang cukup banyak juga, lebih sering menulis di Twitter, atau
sudah lama berada di Twitter. Namun penelitian menunjukkan hal yang kebalikan.
Pengguna Twitter yang banyak menyebarluaskan berita palsu ternyata umumnya mempunyai sedikit
pengikut, mengikuti lebih sedikit akun Twitter, kurang aktif di Twitter, lebih
jarang di-verifikasi dan belum lama berada di Twitter.
Peneliti mencari kemungkinan
alternatif lain yang bisa menjelaskan mengapa berita palsu lebih cepat menyebar
dibandingkan berita benar, karena faktor karakteristik pengguna Twitter tidak
signifikan berpengaruh. Salah satu teori informasi dan teori Bayesian menyebutkan
bahwa sesuatu yang baru (novelty) menarik perhatian manusia, mendorong pembuatan
keputusan dan mendorong berbagi informasi. Hal baru dianggap bermanfaat karena
memperbarui pemahaman manusia tentang dunia. Informasi yang baru tidak hanya
dianggap sangat menarik, tetapi juga sangat berharga dalam perspektif teori
(membantu mengambil keputusan) dan perspektif sosial (meningkatkan status
sosial sebagai orang yang lebih tahu).
Untuk membuktikan teori ini,
peneliti memilih secara acak 5,000 pengguna Twitter yang meneruskan berita
benar maupun berita palsu dan menganalisis sekitar 25,000 twit yang mereka
terima dalam kurun waktu 60 hari sebelum mereka memutuskan me-retwit sebuah isu
(berita benar atau berita palsu). Peneliti menemukan bahwa isu palsu secara signifikan
dianggap lebih menarik dan baru dibandingkan isu benar. Berita palsu lebih mengundang
reaksi terkejut – menguatkan hipotesis tentang sesuatu yang baru (novelty).
Juga berita palsu lebih berkaitan dengan emosi memuakkan (disgust) sementara
berita benar lebih membangkitkan emosi kesedihan (sadness). Peneliti menyimpulkan
bahwa berita palsu dianggap sebagai berita baru yang lebih menarik, dan sesuatu
yang baru dan menarik lebih dipilih untuk dibagikan. Jelas bahwa penyebaran berita palsu bukan dilakukan
oleh robot, melainkan oleh manusia karena melibatkan faktor emosi.
Dari beberapa pemaparan
peneliti di atas, dapat disimpulkan bahwa:
- Penyebaran berita palsu lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam dan lebih luas dibandingkan penyebaran berita yang mengandung informasi yang benar.
- Berita palsu dengan topik politik menyebar lebih cepat, lebih luas, lebih dalam dan mencapai lebih banyak orang dibandingkan berita-berita palsu dengan topik lainnya.
- Perilaku manusia lebih berpengaruh sebagai faktor pada penyebaran berita palsu ataupun berita benar, dibandingkan dengan mesin otomatis / bot. Perilaku ini tidak terkait dengan faktor keaktifan di sosial media (Twitter), banyaknya pengikut, banyaknya akun yang diikuti, ataupun lama memiliki akun tersebut.
Rekomendasi:
- Perlu kebijakan intervensi perilaku misalnya dengan pujian dan penghargaan bagi akun yang melawan berita palsu, mempromosikan berita benar, dan sebaliknya menghukum orang yang menyebarluaskan berita palsu.
- Perlu penelitian lebih lanjut faktor-faktor penentu penilaian manusia yang mendorong pengambilan keputusan penyebarluasan berita benar dan berita palsu.
Semoga tulisan ini dapat
memberikan perspektif baru bagi rekan-rekan, terutama bagi mereka yang berupaya
melawan berita-berita palsu di dunia maya. Tetap semangat dan pantang menyerah
menghadapi hoax!
Tabik!
#falsenews
#penyebaranhoax
#ujarankebencian
#beritapalsu





No comments:
Post a Comment