12 March 2018


Penyebaran Berita Benar dan Berita Keliru (hoax) secara Online

Tulisan ini adalah interpretasi bebas dari artikel: “The Spread of True and False News Online” yang dimuat di Science Mag di laman: http://science.sciencemag.org/content/359/6380/1146
Terbit tanggal 9 Maret 2018.


Lihat juga artikel lainnya: https://sanjayaden.blogspot.com/2018/03/berita-palsu-darisudut-pandang-ilmiah.html


Dalam beberapa tahun terakhir rakyat Indonesia disuguhi beragam kabar di internet dan media sosial yang kerap memancing emosi walaupun belum terbukti kebenarannya. Penyebaran berita menjadi begitu masif dan tidak terbendung, terutama melalui grup-grup komunikasi seperti WhatsApp Group, milis, laman Facebook, Instagram, Twitter, dan aplikasi-aplikasi media sosial lainnya. Berita sangat mudah dipercaya terlebih jika kabar tersebut disebarkan oleh orang yang dikenal baik di dunia nyata. Kecerdasan dan kewaspadaan para pengguna internet selalu memeriksa kebenaran suatu berita yang dibacanya sangat diperlukan untuk menjaga tatanan sosial, sehingga tidak mudah terpancing menyebarkan berita palsu atau hoax.

Teknologi sosial yang baru – yang menyediakan akses untuk berbagi berita secara cepat, berjenjang, dan dalam skala besar – dapat ditumpangi berita-berita palsu yang akan turut juga disebarkan dengan cepat, berjenjang dan berskala besar pula. Dalam pemahaman logis, baik berita benar maupun keliru (hoax) akan disebarkan dengan skala dan kekuatan yang sama melalui teknologi sosial ini. Namun kita cenderung untuk tertarik pada berita yang bombastis dan spektakuler dan menyebarkannya tanpa berpikir panjang apakah berita tersebut benar atau palsu.

Suatu studi yang dipublikasikan baru-baru ini dilakukan oleh Soroush Vosoughi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah menelaah 126,000 berita yang di-twit oleh 3 juta orang sebanyak 4,5 juta kali, yang disebarkan melalui Twitter periode tahun 2006 – 2017. Konfirmasi salah atau benar berita-berita tersebut diperoleh dari enam organisasi pemeriksa fakta independen yang menunjukkan 95 – 98% keakuratan. Penelitian tersebut memaparkan bahwa berita palsu (hoax) secara signifikan menyebar lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam dan lebih luas dibandingkan dengan kebenaran. Berita palsu 70% lebih mungkin akan dibagikan kembali dibandingkan dengan berita benar. Efek berita palsu lebih besar untuk topik kategori politik dibandingkan dengan berita palsu kategori terorisme, bencana alam, sains, ataupun keuangan.  Dalam pemaparannya, Vosoughi mendapati berita kategori politik menempati porsi terbesar dalam penelitian ini, yaitu sekitar 45,000 kaskade (cascade) berita. Cukup menarik mendapati bahwa berita keliru ataupun hoax ditemukan memuncak pada tahun 2013 dan 2015 – 2016, berkaitan dengan pemilihan presiden Amerika Serikat.

Berita Palsu vs Berita Benar

Sekarang, apa yang terjadi pada penyebaran berita palsu dibandingkan dengan berita benar? Vosoughi memaparkan bahwa secara berkaskade berita palsu disebarkan oleh lebih banyak orang di Twitter. Pengertian kaskade adalah: A menulis satu twit berita, kemudian B meretwit berita tersebut, C meretwit dari B dan D meretwit dari C, maka total ada 4 kaskade penyebaran berita.  Berita keliru atau hoax di retwit lebih banyak dari berita benar, yaitu sampai 19 kaskade (Grafik 2A). Sementara berita benar paling banyak adalah 10 kaskade. Berita benar jarang tersebar melebihi jumlah 1,000 orang, sementara berita keliru menyebar antara 1,000 sampai 100,000 orang (Grafik 2B). Orang juga terlihat lebih sering menyebarkan kembali berita keliru dibandingkan menyebarkan berita benar, sehingga penyebaran berita keliru sangat terbantu efek viralitas – di mana berita keliru lebih tersebar intensif pada koneksi teman-ke-teman daripada melalui mekanisme dinamika siaran (broadcast).

Grafik 2:


Berita benar membutuhkan upaya 6 kali lebih besar daripada berita palsu untuk mencapai 1,500 orang, dan 20 kali lebih besar untuk mencapai kedalaman 10 kaskade. Namun karena berita benar tidak pernah mencapai kedalaman lebih dari 10 kaskade, maka bisa dikatakan bahwa berita keliru mencapai kedalaman 19 kaskade 10 kali lebih cepat daripada berita benar mencapai kedalaman 10 kaskade (Grafik 2E). Berita palsu secara signifikan disebaran lebih luas (Grafik 2H) dan di retwit oleh orang-orang baru di tiap kedalaman kaskade (Grafik 2G).

Berita Politik Palsu

Berita politik yang keliru tersebar lebih dalam (Grafik 3A) dan lebih luas (Grafik 3C), dan mencapai lebih banyak orang (Grafik 3B). Berita kategori ini juga lebih viral dibandingkan berita keliru dari kategori lainnya (Grafik 3D).

Grafik 3:


Juga berita politik palsu ternyata tersebar lebih dalam dan lebih cepat (Grafik 3E) dan mencapai lebih dari 20,000 orang hampir 3 kali lebih cepat dari tipe-tipe berita palsu lainnya mencapai 10,000 pemirsa Grafik 3F). Menarik sekali mencermati bahwa berita politik palsu ternyata tersebar lebih luas di kaskade yang lebih dalam, dibandingkan berita palsu lainnya yang lebih luas tersebar di kaskade yang lebih dangkal. Hal ini menunjukkan bahwa berita politik palsu ternyata memiliki dinamika penyebaran yang lebih luas dan lebih cepat.

Karakteristik penyebar berita:


Kita patut menduga bahwa ada faktor karakter individual dari pengguna Twitter yang berperan sehingga penyebaran berita-berita palsu berlangsung lebih cepat dari berita benar. Kita bisa berasumsi mereka yang menyebarkan berita palsu mengikuti lebih banyak orang dan mempunya pengikut yang cukup banyak juga, lebih sering menulis di Twitter, atau sudah lama berada di Twitter. Namun penelitian menunjukkan hal yang kebalikan. Pengguna Twitter yang banyak menyebarluaskan berita palsu ternyata umumnya mempunyai sedikit pengikut, mengikuti lebih sedikit akun Twitter, kurang aktif di Twitter, lebih jarang di-verifikasi dan belum lama berada di Twitter.

Peneliti mencari kemungkinan alternatif lain yang bisa menjelaskan mengapa berita palsu lebih cepat menyebar dibandingkan berita benar, karena faktor karakteristik pengguna Twitter tidak signifikan berpengaruh. Salah satu teori informasi dan teori Bayesian menyebutkan bahwa sesuatu yang baru (novelty) menarik perhatian manusia, mendorong pembuatan keputusan dan mendorong berbagi informasi. Hal baru dianggap bermanfaat karena memperbarui pemahaman manusia tentang dunia. Informasi yang baru tidak hanya dianggap sangat menarik, tetapi juga sangat berharga dalam perspektif teori (membantu mengambil keputusan) dan perspektif sosial (meningkatkan status sosial sebagai orang yang lebih tahu).

Untuk membuktikan teori ini, peneliti memilih secara acak 5,000 pengguna Twitter yang meneruskan berita benar maupun berita palsu dan menganalisis sekitar 25,000 twit yang mereka terima dalam kurun waktu 60 hari sebelum mereka memutuskan me-retwit sebuah isu (berita benar atau berita palsu). Peneliti menemukan bahwa isu palsu secara signifikan dianggap lebih menarik dan baru dibandingkan isu benar. Berita palsu lebih mengundang reaksi terkejut – menguatkan hipotesis tentang sesuatu yang baru (novelty). Juga berita palsu lebih berkaitan dengan emosi memuakkan (disgust) sementara berita benar lebih membangkitkan emosi kesedihan (sadness). Peneliti menyimpulkan bahwa berita palsu dianggap sebagai berita baru yang lebih menarik, dan sesuatu yang baru dan menarik lebih dipilih untuk dibagikan.  Jelas bahwa penyebaran berita palsu bukan dilakukan oleh robot, melainkan oleh manusia karena melibatkan faktor emosi.

Dari beberapa pemaparan peneliti di atas, dapat disimpulkan bahwa:
  1. Penyebaran berita palsu lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam dan lebih luas dibandingkan penyebaran berita yang mengandung informasi yang benar.
  2. Berita palsu dengan topik politik menyebar lebih cepat, lebih luas, lebih dalam dan mencapai lebih banyak orang dibandingkan berita-berita palsu dengan topik lainnya. 
  3. Perilaku manusia lebih berpengaruh sebagai faktor pada penyebaran berita palsu ataupun berita benar, dibandingkan dengan mesin otomatis / bot. Perilaku ini tidak terkait dengan faktor keaktifan di sosial media (Twitter), banyaknya pengikut, banyaknya akun yang diikuti, ataupun lama memiliki akun tersebut.

Rekomendasi:
  • Perlu kebijakan intervensi perilaku misalnya dengan pujian dan penghargaan bagi akun yang melawan berita palsu, mempromosikan berita benar, dan sebaliknya menghukum orang yang menyebarluaskan berita palsu.
  • Perlu penelitian lebih lanjut faktor-faktor penentu penilaian manusia yang mendorong pengambilan keputusan penyebarluasan berita benar dan berita palsu.

Semoga tulisan ini dapat memberikan perspektif baru bagi rekan-rekan, terutama bagi mereka yang berupaya melawan berita-berita palsu di dunia maya. Tetap semangat dan pantang menyerah menghadapi hoax!

Tabik!



#beritahoax
#falsenews
#penyebaranhoax
#ujarankebencian
#beritapalsu



No comments:

Post a Comment