17 March 2018


BERITA PALSU DARI SUDUT PANDANG ILMIAH

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari artikel berjudul The Science of Fake News yang dimuat dalam majalah Science terbit tanggal 09 Mar 2018:  Vol. 359, Issue 6380, halaman 1094-1096.

Lihat juga artikel lainnya: https://sanjayaden.blogspot.com/2018/03/penyebaran-berita-benar-danberita.html

Kebangkitan berita palsu menunjukkan bobolnya benteng pertahanan yang sudah lama membendung arus informasi palsu di abad internet ini. Kekhawatiran ini dialami secara global di seluruh dunia. Sayangnya, masih banyak yang belum kita ketahui tentang kerentanan individu, institusi dan masyarakat terhadap manipulasi para pelaku kejahatan yang menyebarkan berita palsu, sehingga diperlukan sebuah sistem keamanan untuk menjaganya.  Di bawah ini kita akan mendiskusikan penelitian-penelitian ilmu komputer dan sosial tentang tingkat kepercayaan terhadap berita palsu dan mekanisme penyebaran berita palsu tersebut.

Berita palsu mempunyai sejarah yang panjang, namun kita akan fokus pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang tak terjawab, yang muncul akibat perkembangan terbaru berita palsu berorientasi politik. Di luar dari bahan-bahan rujukan terpilih dalam pembahasan ini, kami menyarankan pembaca mencari bacaan-bacaan lebih lanjut yang dimuat dalam materi-materi tambahan.

Apa itu Berita Palsu?

Kami mendefinisikan “berita palsu” sebagai informasi palsu yang dibuat meniru bentuk konten media pemberitaan, namun tidak dibuat melalui proses dan maksud sebagaimana media berita lakukan. Berita palsu tidak mempunyai norma-norma editorial dan tidak melalui proses menjamin akurasi dan kredibilitas informasi. Berita palsu bertumpang tindih dengan berbagai kekacauan informasi, seperti informasi keliru (salah atau menyesatkan) dan disinformasi (informasi tidak benar yang sengaja disebarkan untuk menipu orang).

Berita palsu yang terutama menarik perhatian dalam konteks politik baru-baru ini, ternyata juga ditemukan tersebar luas dalam topik-topik lainnya seperti vaksinasi, gizi, dan bursa saham. Berita palsu sangat merugikan karena sifatnya yang seperti parasit bagi media berita standar, yaitu mengambil keuntungan dari dan sekaligus menurunkan kredibilitas sumber-sumber berita standar.

Beberapa media sosial – khususnya First Draft dan Facebook – sering berhubungan dengan sebutan “berita palsu” karena banyaknya berita palsu dimuat di media-media tersebut sebagai senjata politik (1). Kami sengaja memperhatikan kedua media tersebut karena nilai konstruksi ilmiahnya, dan karena kepentingan politik menarik perhatian orang-orang pada topik yang penting.

Latar Belakang Sejarah

Norma berita obyektif dan berimbang muncul sebagai reaksi balik kalangan jurnalis terhadap penggunaan propaganda masif dalam Perang Dunia Pertama (yang tak lepas dari peran para jurnalis sendiri dalam penyebarannya), dan dalam kebangkitan masyarakat korporat di era tahun 1920-an. Oligopoli lokal maupun nasional yang tercipta dari teknologi penyebaran informasi abad ke-20 (media cetak dan siaran) terus menerus menyebarkan norma-norma ini. Kehadiran internet mempermudah masuknya saingan baru dalam bisnis informasi ini – yang banyak diantaranya menolak norma-norma tersebut – dan merongrong kemapanan bisnis berita tradisional yang telah menikmati kepercayaan publik dan kredibilitas yang tinggi. Tingkat kepercayaan umum pada media massa tradisional merosot terendah dalam sejarah pada tahun 2016 ketika hanya 51%  pendukung partai Demokrat dan 14% pendukung partai Republik di Amerika Serikat yang mengungkapkan kepercayaan terhadap media massa sebagai sumber berita (2).

Amerika Serikat telah mengalami evolusi geopolitik dan sosiopolitik pararel. Polarisasi geografis keinginan partisan telah meningkat pesat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, sehingga mengurangi kesempatan interaksi politik lintas bidang. Jejaring sosial yang homogen pada akhirnya menurunkan toleransi terhadap pandangan-pandangan alternatif, menguatkan polarisasi sikap, mendorong kemungkinan menerima berita yang kompatibel secara ideologis, dan menutup pintu bagi informasi baru. Ketidaksukaan terhadap “pihak yang lain” (polarisasi afektif) juga makin menguat. Kecenderungan-kecenderungan ini telah menciptakan situasi di mana berita palsu menarik perhatian khalayak ramai.

Prevalensi dan Dampak

Seberapa umum kah berita palsu, dan apa dampaknya terhadap individu? Ternyata ada jawaban ilmiah untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar ini.

Dalam mengevaluasi prevalensi berita palsu, kami lebih berfokus kepada sumber utamanya – para penerbit – dari pada kepada cerita-cerita individu. Kami melihat peran penerbit sangat dominan untuk menentukan tujuan penayangan berita palsu dan juga proses pengolahannya. Fokus pada penerbit juga menghindarkan kami dari kewajiban memeriksa kebenaran setiap cerita satu persatu.

Suatu penelitian mengevaluasi penyebaran berita palsu melaporkan bahwa rata-rata orang Amerika mendapat antara satu sampai tiga cerita dari penerbit berita palsu selama sebulan sebelum pemilihan presiden 2016 (3). Ini mungkin perkiraan yang konservatif karena penelitian hanya menelusuri 156 berita palsu. Penelitian lain melaporkan informasi palsu di Twitter biasanya di-retwit lebih cepat dan oleh banyak orang daripada informasi yang benar, terutama bila topiknya adalah politik (4). Facebook memperkirakan bahwa manipulasi oleh pelaku kejahatan menyumbang kurang dari sepersepuluh dari 1% konten masyarakat yang dibagikan di platform tersebut (5), walaupun analisis datanya tidak ditunjukkan secara terinci.

Dengan menyukai, berbagi, dan mencari informasi, bots sosial (akun otomatis yang meniru identitas manusia) dapat memperluas penyebaran berita palsu berdasarkan urutan kepentingannya. Diperkirakan 9 – 15% akun Twitter aktif adalah bot (6). Facebook memperkirakan sekitar 60 juta bots (7) kemungkinan menghuni platformnya. Mereka bertanggung jawab atas sebagian besar konten politik yang diposkan pada kampanye Amerika Serikat tahun 2016, dan beberapa bot yang sama kemudian digunakan untuk mempengaruhi pemilihan Prancis tahun 2017 (8). Bot juga digunakan untuk memanipulasi algoritma yang digunakan untuk memprediksi keterlibatan potensial oleh populasi yang lebih luas. Memang, sebuah rilis berita Facebook melaporkan peningkatan upaya manipulasi semacam ini selama pemilihan Amerika tahun 2016 (5).

Namun, dengan absennya metode yang terpercaya untuk mengidentifikasi apakah posting tersebut dilakukan oleh bot atau manusia pada platform tertentu, kita perlu berhati-hati membaca data prevalensi bot tersebut. Deteksi bot akan selalu menjadi permainan kucing dan tikus di mana sejumlah besar bot yang mirip dengan manusia namun tidak diketahui dan tidak terdeteksi. Keberhasilan mengidentifikasi bot, bagaimanapun, akan dimanfaatkan oleh produsen bot untuk membuat bot yang lebih canggih lagi. Pengenalan bot merupakan tantangan utama penelitian dan riset yang sedang berlangsung.

Kita bersama tahu bahwa, sama seperti berita yang benar dan sah, berita palsu juga telah beredar luas di media sosial. Namun, untuk mengetahui berapa banyak individu yang terpapar dan berbagi berita palsu tidaklah sama dengan mengetahui berapa banyak orang yang membaca atau terpengaruh oleh berita palsu tersebut. Penilaian dampak jangka menengah dan jangka panjang terhadap perilaku politik akibat terpapar berita palsu (misalnya, apa dan bagaimana memilih pemimpin politik) pada dasarnya tidak ada dalam literatur. Dampaknya mungkin saja kecil – bukti menunjukkan bahwa upaya kampanye politik untuk meyakinkan individu memilih seseorang mungkin memiliki efek terbatas (9). Namun, mediasi berita palsu melalui media sosial dapat menonjolkan pengaruh berita palsu ini karena terlihat afiliasi politik dan dukungan tersirat saat seseorang berbagi. Di luar dampak pemilihan, efek media umumnya menunjukkan banyak pengaruh potensial, mulai dari meningkatnya sinisme dan sikap apatis untuk mendorong ekstremisme. Dalam pada itu, masih sedikit evaluasi dampak berita palsu yang tersedia dan diketahui.

Intervensi Potensial

Intervensi apa yang mungkin ampuh dalam menghentikan aliran dan pengaruh berita palsu? Kami mengidentifikasi dua kategori intervensi: (i) yang ditujukan untuk memberdayakan individu agar dapat menilai berita palsu yang mereka hadapi, dan (ii) perubahan struktural yang ditujukan untuk pencegahan dini keterpaparan individu terhadap berita palsu.

Pemberdayaan Individu

Ada banyak cara untuk memeriksa fakta, misalnya dari situs web yang mengevaluasi klaim faktual laporan berita seperti PolitiFact dan Snopes, untuk mengevaluasi laporan berita oleh media yang terpercaya seperti Washington Post dan Wall Street Journal, dan mengenai informasi kontekstual konten sisipan oleh perantara – contohnya yang digunakan oleh Facebook.

Pemeriksaan fakta paling baik dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan cara agar lebih obyektif dan ilmiah. Hal ini mungkin mencerminkan kecenderungan lebih luas dalam kesadaran kolektif, sebagaimana perubahan struktural masyarakat kita. Orang cenderung tidak mempertanyakan kesahihan suatu informasi, kecuali informasi tersebut bertentangan dengan pemahaman mereka sebelumnya, atau ada keuntungan dengan mempertanyakannya. Jika tidak ada, maka orang akan menerima informasi tersebut tanpa kritik apapun. Orang juga cenderung mengaitkan keyakinan dengan nilai-nilai komunitas mereka.  

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang lebih menyukai informasi yang menegaskan sikap mereka yang sudah ada sebelumnya (paparan selektif), melihat informasi yang sesuai dengan pendapat mereka yang sudah ada karena lebih meyakinkan daripada informasi yang tidak selaras (bias konfirmasi), dan cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keinginan mereka (bias keinginan). Keyakinan partisan dan ideologi yang telah terbentuk sebelumnya dapat menolak hasil pemeriksaan fakta untuk konfirmasi sebuah berita palsu.

Pemeriksaan fakta bisa jadi akan kontraproduktif dalam situasi tertentu. Penelitian tentang pengaruh dan kemudahan mengingat informasi – serta bias kebiasaan dalam politik menunjukkan bahwa orang cenderung mengingat informasi dan perasaan yang ditimbulkannya dan melupakan konteks di mana mereka menemukan informasi tersebut. Selain itu, mereka cenderung menerima informasi yang biasa/lazim sebagai kenyataan (10). Dengan demikian, tak heran informasi palsu yang berulang – walaupun  dalam konteks pemeriksaan fakta – dapat diterima sebagai hal yang benar. Bukti-bukti efektivitas pengulangan klaim pada pemeriksaan fakta masih bercampur (11).  

Walaupun penelitian eksperimental dan survei telah mengkonfirmasi bahwa penerimaan sebagai kebenaran meningkat saat informasi palsu diulang-ulang, hal ini ternyata tidak terjadi bila informasi palsu dipasangkan dengan bantahannya yang sah. Beberapa riset menyarankan pengulangan informasi palsu sebelum koreksi bahkan mungkin bermanfaat. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menemukan titik temu dari kontradiksi ini dan menentukan kondisi di mana intervensi pemeriksaan fakta bekerja paling efektif.

Pendekatan jangka panjang lainnya adalah upaya memperbaiki penilaian individu terhadap kualitas sumber informasi melalui pendidikan. Telah ada upaya penyebarluasan pelatihan keterampilan kritis informasi di sekolah dasar dan menengah (12). Namun, belum dapat dipastikan apakah upaya tersebut mampu memperbaiki penilaian kredibilitas informasi, dan keterampilan penilaian tersebut dapat bertahan lama. Terlalu menekankan tentang berita palsu bisa jadi memiliki konsekuensi negatif, yaitu penurunan kepercayaan orang terhadap sumber-sumber berita nyata. Ada kebutuhan mendesak untuk evaluasi yang menyeluruh terhadap program intervensi pendidikan.

Deteksi dan Intervensi Berbasis Platform: Algoritma dan Bot

Platform internet telah menjadi pendukung terpenting dan saluran utama berita palsu. Cukup murah untuk membuat sebuah situs internet yang berkedok organisasi berita profesional. Juga sangat mudah memperoleh uang dari konten laman melalui iklan daring dan penyebaran melalui sosial media. Internet tidak hanya menyediakan wadah untuk mempublikasikan berita palsu, tetapi juga menawarkan perangkat-perangkat untuk menyebarluaskannya secara aktif.

Sekitar 47% rakyat Amerika mendapatkan berita melalui media sosial – misalnya Facebook – sebagai sumber dominan (13). Media sosial adalah saluran utama situs berita palsu (3). Menurut kesaksian Kongres baru-baru ini, Rusia berhasil memanipulasi semua platform utama media sosial selama pemilihan presiden Amerika 2016 (7).  

Bagaimana platform internet dan media sosial dapat membantu mengurangi penyebaran dan dampak berita palsu? Google, Facebook dan Twitter adalah penghubung kita ke sumber berita maupun juga ke teman dan saudara kita. Umumnya model bisnis mereka bergantung kepada monetisasi perhatian melalui iklan. Mereka menggunakan model statistik yang kompleks untuk memprediksi dan memaksimalkan keterlibatan dengan konten (14). Seharusnya memungkinan untuk menyesuaikan model tersebut dalam peningkatan kualitas informasi.

Platform dapat memberikan tanda kepada konsumen tentang kualitas sumber berita, yang dapat digabungkan ke dalam peringkat konten algoritmik. Mereka dapat mengurangi personalisasi informasi politik relatif terhadap jenis konten lainnya (media sosial dapat mengurangi terjadinya “ruang gema” berita-berita politik yang dibagikan oleh individu). Menciptakan fungsi yang mengenali konten yang sedang tren saat ini sekaligus mengecualikan aktivitas bot dari pengukuran tren tersebut. Secara umum, platform dapat mengekang penyebaran konten berita secara otomatis oleh bot dan cyborg (pengguna yang secara otomatis berbagi berita dari sekumpulan sumber yang telah ditentukan, dengan ataupun tanpa membacanya terlebih dahulu). Walaupun pada masa yang akan datang para produsen bot tentunya akan menemukan cara yang efektif untuk menghindari pembatasan ini.

Platform telah mencoba masing-masing langkah ini dan langkah lainnya (5, 15). Facebook mengumumkan berniat mengubah algoritma untuk memperhitungkan “kualitas” di proses kurasi kontennya. Twitter mengumumkan bahwa akan memblokir akun tertentu yang terkait dengan informasi palsu dari Rusia, dan memberitahu pengguna yang terpapar berita tersebut bahwa mungkin mereka telah tertipu. Namun para platform tersebut belum memberikan cukup detail untuk evaluasi oleh komunitas riset ataupun membuat temuan mereka dapat dilakukan peer-review. Hal ini membuat mereka diragukan sebagai sumber informasi oleh pengambil keputusan ataupun masyarakat umum.

Kami mendorong platform berkolaborasi dengan akademisi independen dalam mengevaluasi isu berita palsu dan perancangan serta efektivitas intervensi yang dapat dilakukan. Hanya ada sedikit penelitian tentang berita palsu dan tidak ada pengumpulan data yang komprehensif untuk memberikan pemahaman dinamis tentang bagaimana sistem penyedia berita palsu berevolusi. Tidak mungkin menciptakan kembali Google tahun 2010. Google sendiri tidak dapat melakukannya walaupun mereka memiliki kode dasarnya, karena pola tersebut muncul dari interaksi rumit antara kode, konten dan pengguna. Namun memungkinkan untuk mencatat apa yang Google lakukan di 2018. Secara umum, peneliti perlu melakukan audit yang ketat dan berkelanjutan tentang bagaimana platform-platform utama menyaring informasi.

Ada tantangan untuk kolaborasi ilmiah dari sudut pandang industri dan akademis. Namun, ada juga tanggungjawab etis dan sosial, melampaui kekuatan pasar, agar platform-platform dapat menyumbangkan data unik mereka untuk menganalisis berita palsu secara ilmiah.
Kemungkinan efektivitas kebijakan berbasis platform akan menunjuk baik pada peraturan pemerintah mengenai platform atau pengaturan mandiri. Pengaturan langsung pemerintah pada suatu area sensitif seperti berita publik, akan membawa resiko-resiko sendiri, konstitusional dan lain-lain. Sebagai contoh, dapatkah regulator mempertahankan (dan memelihara) sikap ketidakberpihakan dalam menentukan, memaksakan dan menegakkan persyaratan? Umumnya, semua intervensi langsung dari pemerintah ataupun dari penyedia layanan yang mencegah pengguna melihat konten, akan menimbulkan ketakutan tentang upaya sensor dari pemerintah ataupun dari penyedia layanan.

Salah satu alternatif untuk pengaturan langsung pemerintah adalah tuntutan hukum delik aduan, misalnya tuntutan penghinaan dari orang-orang yang secara langsung merasa dirugikan oleh penyebaran berita palsu. Mencermati peran platform dalam menyebarluaskan cerita palsu (tetapi masih tetap persuasif), ada kemungkinan menutut pertanggungjawaban platform sesuai dengan hukum konstitusional yang berlaku, yang pada gilirannya menekan platform untuk campur tangan lebih sering dalam pembatasan berita palsu. Dalam konteks Amerika Serikat, ketentuan Undang Undang Kepatutan Komunikasi tahun 1996 menawarkan kekebalan hampir menyeluruh terhadap platform untuk pernyataan palsu atau pernyataan yang dapat dituntut – yang ditulis oleh orang lain. Setiap perubahan pada aturan pemerintah legal ini akan menimbulkan masalah serius tentang sejauh mana konten platform (dan keputusan kurasi konten) ditinjau ulang oleh orang-orang yang mengklaim “terluka” dengan isi konten tersebut. Di Eropa berlaku “Hak Untuk Dilupakan” pada mesin pencari – yang menguji masalah-masalah ini.

Intervensi struktural umumnya menimbulkan kekhawatiran tentang menghormati hak-hak perusahaan swasta dan manusia secara personal. Namun sebagaimana perusahaan media di abad ke 20 membentuk paparan informasi pada orang-orang, oligopoli internet yang jauh lebih luas sudah membentuk pengalaman manusia dalam skala global. Pertanyaan bagi kita kemudian adalah bagaimana menggunakan kekuatan besar itu, dan bagaimana membuat perusahaan-perusahaan besar tersebut bertanggungjawab dalam menggunakannya.

Agenda Masa Depan

Misi kami adalah untuk mempromosikan penelitian interdisipliner guna mengurangi penyebaran berita palsu dan untuk mengatasi kerusakan yang telah diungkapkannya. Kesalahan media berita Amerika pada awal abad 20 menyebabkan munculnya norma dan praktik jurnalistik yang walaupun belum sempurna namun telah cukup baik memberikan informasi yang obyektif dan kredibel. Kita perlu merancang ulang ekosistem informasi kita di abad ke-21.  Upaya ini harus berskala global karena banyak negara yang menghadapi tantangan seputar berita palsu dan berita nyata yang lebih akut dan parah dibandingkan di Amerika Serikat. Beberapa diantara negara-negara itu belum pernah mengembangkan ekosistem berita yang kuat. Lebih luas lagi, kita perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: Bagaimana kita bisa menciptakan ekosistem berita dan budaya yang menghargai dan mempromosikan kebenaran?

Rujukan dan catatan:
1.       C. Wardle, H. Derakhshan, “Information disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making” [Council of Europe policy report DGI(2017)09, Council of Europe, 2017];https://firstdraftnews.com/wp-content/uploads/2017/11/PREMS-162317-GBR-2018-Report-de%CC%81sinformation-1.pdf?x29719.
  1. A. Swift, Americans' trust in mass media sinks to new low (Gallup, 2016);www.gallup.com/poll/195542/americans-trust-mass-media-sinks-new-low.aspx.
3.       H. Allcott, M. Gentzkow, J. Econ. Perspect. 31, 211 (2017).
4.       S. Vosoughi et al., Science 359, 1146 (2018).
5.       J. Weedon et al., Information operations and Facebook (Facebook, 2017);https://fbnewsroomus.files.wordpress.com/2017/04/facebook-and-information-operations-v1.pdf.
6.       O. Varol et al., in Proceedings of the 11th AAAI Conference on Web and Social Media (Association for the Advancement of Artificial Intelligence, Montreal, 2017), pp. 280–289.
7.       Senate Judiciary Committee, Extremist content and Russian disinformation online: Working with tech to find solutions (Committee on the Judiciary, 2017); www.judiciary.senate.gov/meetings/extremist-content-and-russian-disinformation-online-working-with-tech-to-find-solutions.
8.       E. Ferrara, First Monday 22, 2017 (2017).
9.       J. L. Kalla, D. E. Broockman, Am. Polit. Sci. Rev. 112, 148 (2018).
10.   B. Swire et al., J. Exp. Psychol. Learn. Mem. Cogn. 43, 1948 (2017).
11.   U. K. H. Ecker et al., J. Appl. Res. Mem. Cogn. 6, 185 (2017).
12.   C. Jones, Bill would help California schools teach about “fake news,” media literacy (EdSource, 2017);https://edsource.org/2017/bill-would-help-california-schoolsteach-about-fake-news-media-literacy/582363.
13.   Gottfried, E. Shearer, News use across social media platforms 2017, Pew Research Center, 7 September2017; www.journalism.org/2017/09/07/news-use-across-social-media-platforms-2017/.
14.   E. Bakshy et al., Science 348, 1130 (2015).
15.    C. Crowell, Our approach to bots & misinformation, Twitter, 14 June 2017;https://blog.twitter.com/official/en_us/topics/company/2017/Our-Approach-Bots-Misinformation.html.

Supplementary Materials



No comments:

Post a Comment