22 March 2018

MENYANGKAL REALITAS 


Banyak orang menyangkal kebenaran bahkan ketika dihadapkan dengan data ilmiah yang tak terbantahkan! 


Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari artikel yang ditulis oleh Saul Levine, M.D. di laman Psychology Today tanggal 8 Desember tahun 2015. Artikel asli dapat dilihat di sini.  Karena merupakan hasil terjemahan, maka saya menyarankan pembaca untuk melihat dari sudut pandang budaya dan konteks masyarakat Amerika pada masa tersebut. 


Dalam teori psikoanalisis, penyangkalan adalah pertahanan psikologis yang dilakukan oleh kita untuk mengurangi rasa cemas saat berhadapan dengan hal yang dirasakan amat mengganggu

Akhir-akhir ini, kita menjumpai ada satu tipe unik dari "penyangkalan" ini, di mana orang dewasa yang tampaknya cerdas dan waras dengan penuh semangat menolak kebenaran meskipun ada bukti kumpulan data yang tak terbantahkan. Penolakan ini mirip dengan "Truthiness"* Stephen Colbert, di mana orang-orang yang melakukan penyangkalan ini dengan tegas menolak fakta-fakta ilmiah yang terverifikasi karena menghalangi gagasan-gagasan mereka sendiri yang kaku.

Catatan penulis: "Truthiness" adalah adalah keyakinan atau pernyataan bahwa suatu hal adalah benar dengan hanya didasarkan pada intuisi atau persepsi seseorang atau sekelompok orang, tanpa mengindahkan bukti, logika, penelitian ilmiah, ataupun fakta-fakta. 
Silakan klik tautan ini untuk mengenal siapa Stephen Colbert

Berikut beberapa contoh dari keyakinan mereka: 

  1. Tidak ada Pemanasan Global yang diakibatkan oleh ulah manusia. 
  2. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki iklim kita. 
  3. Sebagian besar imigran menguras anggaran layanan sosial, sekolah, rumah sakit, dan sumber daya publik lainnya. 
  4. Banyak imigran adalah penjahat, pemerkosa, pedagang obat bius atau teroris.
  5. Mudahnya memperoleh senjata api tidak ada hubungannya dengan wabah kejadian penembakan-penembakan di Amerika. 
  6. Angka kematian akibat senjata api belum terbukti menurun di negara-negara yang menerapkan pembatasan kepemilikan senjata api. 
  7. Vaksin sangat berbahaya karena mengakibatkan autisme dan kelainan-kelainan lainnya. 
  8. Orang Muslim datang untuk menghancurkan kita dan kebudayaan kita. 
  9. Orang Amerika Latin adalah pemalas, orang Yahudi itu serakah, orang berkulit hitam semua penjahat, dll. 
  10. Pernikahan adalah suci hanya antara seorang pria dan seorang wanita. 
  11. Planned Parenthood menjual organ-organ tubuh bayi. 
  12. LGBT adalah orang-orang yang sakit atau jahat. 
  13. Amerika Serikat adalah negara nomor satu / terbesar di dunia dalam bidang kesehatan, pendidikan, gizi, kedermawanan sosial, kebersihan, kebahagiaan, dan keamanan. (namun kenyataannya Amerika juga "terbesar" dalam persenjataan, kejadian penembakan massal, pembelanjaan militer, jumlah narapidana, perdagangan obat bius, dan lain-lain indikator "keagungan"). 
Dalam ilmu kedokteran jiwa, kata "delusi" berarti keyakinan kuat pada beberapa gagasan yang diketahui salah, dan dapat menjadi gejala paranoia atau psikosis. Walaupun orang-orang yang percaya dan yakin pada hal-hal di atas tidak sakit secara mental, namun mereka sangat taat pada kepercayaan mereka meski disodori bukti-bukti yang jelas bertentangan, terutama jika bukti-bukti berdasarkan telaah ilmiah. 

Para penyangkal ini adalah "penganut sejati" dari "Satu Kebenaran Mutlak". Mereka adalah kelompok yang baru-baru disebut ini oleh Paus Fransiskus sebagai "kaum fundamentalis", dan mereka dapat ditemukan di semua agama dan aliran kepercayaan. Tulisan-tulisan dari kitab acuan mereka diambil secara harfiah atau ditafsirkan ulang untuk menyesuaikan dengan prasangka dan kebencian mereka.

Pemikiran tertutup semacam ini lazim di setiap negara di dunia dan ada di semua agama. Berbagai kata menggambarkan hal ini: zealotry, bigotry, fanaticism (fanatik, fanatisme). Praktik keyakinan sangat kaku seperti ini sangat membahayakan jiwa kewarganegaraan kita. Lebih buruk lagi, mereka menyebarkan alasan-alasan ilmiah palsu untuk mengendalikan dan menebarkan kebencian. 

Mari kita mengingat bahwa para pendahulu kelompok penyangkal saat ini adalah mereka yang pernah dengan semangat menggebu-gebu menyatakan bahwa: Bumi diciptakan dalam 7 hari, Bumi adalah datar, dan merupakan pusat Alam Semesta; gravitasi tidak ada; penyakit disebabkan oleh roh jahat; dan ras Kaukasia adalah ras terunggul. 

Ilmu pengetahuan memang tidak sempurna, itulah sebabnya para ilmuwan di seluruh dunia selalu berusaha untuk menemukan dan memahami lebih banyak tentang tubuh, pikiran, planet, dan kosmos kita.Tetapi ketika orang menolak untuk menerima atau percaya data dan fakta yang terbukti secara ilmiah karena mengganggu pikiran mereka, berarti kita memang dalam masalah besar.

Saul Levine, MD
Profesor Emeritus Psikiatri
Universitas California di San Diego (UCSD)
Telepon: 1-619 507 6142
email: slevine@ucsd.edu.

#bigotry
#denial
#menyangkal_fakta
#truthiness
#saul_levine
#delusi

21 March 2018

Nilai Keheningan

Kebanyakan dari kita tidak menyukai keheningan, karena keheningan memaksa kita menghadapi diri kita sendiri. Dan kadangkala yang kita temui berhadapan dengan diri kita adalah suatu kekosongan. 

Kita juga takut terhadap keheningan, karena kita menganggap keheningan adalah tidak bermakna, tidak penting. Ini bertentangan dengan keinginan kita untuk selalu tampil didengar dan dilihat. Kita ingin membuat diri kita bermakna. Kita ingin menjadi seseorang yang berharga di mata orang-orang lain. Keheningan membuat kita sendiri dan sunyi. 

Keinginan untuk membuat diri kita bermakna kadang bisa sangat kuat. Namun dalam upaya kita untuk didengar, diperhatikan dan dikenang baik oleh orang lain kita seringkali menenggelamkan suara hati kita. 

Kita selalu mencari sesuatu yang sebenarnya sudah kita miliki. Kita sudah mempunyai segala yang kita butuhkan di dalam diri kita sendiri. Kedamaian yang kita dambakan bukanlah berada di suatu tempat di luar sana. Kedamaian itu ada di sini sekarang. Pada saat ini, di dalam diri kita. 

Jika Anda ingin mengetahui tentang diri Anda, matikanlah televisi, radio, internet dan berbagai percakapan dalam benak Anda. Pergilah ke suatu tempat yang sunyi dan habiskan waktu berdiam sendiri. Di sinilah tempat Anda akan bertemu dengan diri Anda sendiri. Di sini Anda akan mengetahui hal-hal apa yang sangat penting untuk Anda. 

Ketika duduk dalam diam kita dapat memperhatikan hal-hal yang kita lewatkan sebelumnya. Keinginan-keinginan kita berkurang dan menjadi sederhana. Kita menemukan kepuasan suara hati kita, dan perlahan menyadari bahwa kita telah menjadi apa yang kita butuhkan. Dengan diam, kita dibawa kembali ke tempat di mana kita bisa beristirahat dan mendapat penyegaran batin, jauh dari riuhnya kebisingan dunia. 

Sempatkanlah saat hening ini dalam jadwal Anda. Ini lebih penting dari apapun yang Anda lakukan, karena dari sinilah sumber kekuatan, tujuan dan ketenangan diri untuk menjadi orang yang lebih baik bagi diri Anda sendiri maupun bagi orang lain. 

Sebagaimana tidur, menggosok gigi, makan, pergi bekerja dan berolahraga, setiap hari kita membutuhkan waktu untuk berdiam dalam keheningan. Kita membutuhkan waktu dalam sehari untuk membudidayakan keheningan, agar kita dapat membawanya dalam kegiatan kita sehari-hari dan hidup dalam rasa damai, bahkan di tengah-tengah situasi yang penuh tekanan. 

Semoga kita bisa mencapai kedamaian hati dan menyebarkannya kepada orang lain. 

#keheningan
#diam
#meditasi
#cultivatesilence
#refleksi_nyepi2018

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari artikel di laman:
https://medium.com/personal-growth/the-value-of-silence-4ef75fba712d



17 March 2018


BERITA PALSU DARI SUDUT PANDANG ILMIAH

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari artikel berjudul The Science of Fake News yang dimuat dalam majalah Science terbit tanggal 09 Mar 2018:  Vol. 359, Issue 6380, halaman 1094-1096.

Lihat juga artikel lainnya: https://sanjayaden.blogspot.com/2018/03/penyebaran-berita-benar-danberita.html

Kebangkitan berita palsu menunjukkan bobolnya benteng pertahanan yang sudah lama membendung arus informasi palsu di abad internet ini. Kekhawatiran ini dialami secara global di seluruh dunia. Sayangnya, masih banyak yang belum kita ketahui tentang kerentanan individu, institusi dan masyarakat terhadap manipulasi para pelaku kejahatan yang menyebarkan berita palsu, sehingga diperlukan sebuah sistem keamanan untuk menjaganya.  Di bawah ini kita akan mendiskusikan penelitian-penelitian ilmu komputer dan sosial tentang tingkat kepercayaan terhadap berita palsu dan mekanisme penyebaran berita palsu tersebut.

Berita palsu mempunyai sejarah yang panjang, namun kita akan fokus pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang tak terjawab, yang muncul akibat perkembangan terbaru berita palsu berorientasi politik. Di luar dari bahan-bahan rujukan terpilih dalam pembahasan ini, kami menyarankan pembaca mencari bacaan-bacaan lebih lanjut yang dimuat dalam materi-materi tambahan.

Apa itu Berita Palsu?

Kami mendefinisikan “berita palsu” sebagai informasi palsu yang dibuat meniru bentuk konten media pemberitaan, namun tidak dibuat melalui proses dan maksud sebagaimana media berita lakukan. Berita palsu tidak mempunyai norma-norma editorial dan tidak melalui proses menjamin akurasi dan kredibilitas informasi. Berita palsu bertumpang tindih dengan berbagai kekacauan informasi, seperti informasi keliru (salah atau menyesatkan) dan disinformasi (informasi tidak benar yang sengaja disebarkan untuk menipu orang).

Berita palsu yang terutama menarik perhatian dalam konteks politik baru-baru ini, ternyata juga ditemukan tersebar luas dalam topik-topik lainnya seperti vaksinasi, gizi, dan bursa saham. Berita palsu sangat merugikan karena sifatnya yang seperti parasit bagi media berita standar, yaitu mengambil keuntungan dari dan sekaligus menurunkan kredibilitas sumber-sumber berita standar.

Beberapa media sosial – khususnya First Draft dan Facebook – sering berhubungan dengan sebutan “berita palsu” karena banyaknya berita palsu dimuat di media-media tersebut sebagai senjata politik (1). Kami sengaja memperhatikan kedua media tersebut karena nilai konstruksi ilmiahnya, dan karena kepentingan politik menarik perhatian orang-orang pada topik yang penting.

Latar Belakang Sejarah

Norma berita obyektif dan berimbang muncul sebagai reaksi balik kalangan jurnalis terhadap penggunaan propaganda masif dalam Perang Dunia Pertama (yang tak lepas dari peran para jurnalis sendiri dalam penyebarannya), dan dalam kebangkitan masyarakat korporat di era tahun 1920-an. Oligopoli lokal maupun nasional yang tercipta dari teknologi penyebaran informasi abad ke-20 (media cetak dan siaran) terus menerus menyebarkan norma-norma ini. Kehadiran internet mempermudah masuknya saingan baru dalam bisnis informasi ini – yang banyak diantaranya menolak norma-norma tersebut – dan merongrong kemapanan bisnis berita tradisional yang telah menikmati kepercayaan publik dan kredibilitas yang tinggi. Tingkat kepercayaan umum pada media massa tradisional merosot terendah dalam sejarah pada tahun 2016 ketika hanya 51%  pendukung partai Demokrat dan 14% pendukung partai Republik di Amerika Serikat yang mengungkapkan kepercayaan terhadap media massa sebagai sumber berita (2).

Amerika Serikat telah mengalami evolusi geopolitik dan sosiopolitik pararel. Polarisasi geografis keinginan partisan telah meningkat pesat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, sehingga mengurangi kesempatan interaksi politik lintas bidang. Jejaring sosial yang homogen pada akhirnya menurunkan toleransi terhadap pandangan-pandangan alternatif, menguatkan polarisasi sikap, mendorong kemungkinan menerima berita yang kompatibel secara ideologis, dan menutup pintu bagi informasi baru. Ketidaksukaan terhadap “pihak yang lain” (polarisasi afektif) juga makin menguat. Kecenderungan-kecenderungan ini telah menciptakan situasi di mana berita palsu menarik perhatian khalayak ramai.

Prevalensi dan Dampak

Seberapa umum kah berita palsu, dan apa dampaknya terhadap individu? Ternyata ada jawaban ilmiah untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar ini.

Dalam mengevaluasi prevalensi berita palsu, kami lebih berfokus kepada sumber utamanya – para penerbit – dari pada kepada cerita-cerita individu. Kami melihat peran penerbit sangat dominan untuk menentukan tujuan penayangan berita palsu dan juga proses pengolahannya. Fokus pada penerbit juga menghindarkan kami dari kewajiban memeriksa kebenaran setiap cerita satu persatu.

Suatu penelitian mengevaluasi penyebaran berita palsu melaporkan bahwa rata-rata orang Amerika mendapat antara satu sampai tiga cerita dari penerbit berita palsu selama sebulan sebelum pemilihan presiden 2016 (3). Ini mungkin perkiraan yang konservatif karena penelitian hanya menelusuri 156 berita palsu. Penelitian lain melaporkan informasi palsu di Twitter biasanya di-retwit lebih cepat dan oleh banyak orang daripada informasi yang benar, terutama bila topiknya adalah politik (4). Facebook memperkirakan bahwa manipulasi oleh pelaku kejahatan menyumbang kurang dari sepersepuluh dari 1% konten masyarakat yang dibagikan di platform tersebut (5), walaupun analisis datanya tidak ditunjukkan secara terinci.

Dengan menyukai, berbagi, dan mencari informasi, bots sosial (akun otomatis yang meniru identitas manusia) dapat memperluas penyebaran berita palsu berdasarkan urutan kepentingannya. Diperkirakan 9 – 15% akun Twitter aktif adalah bot (6). Facebook memperkirakan sekitar 60 juta bots (7) kemungkinan menghuni platformnya. Mereka bertanggung jawab atas sebagian besar konten politik yang diposkan pada kampanye Amerika Serikat tahun 2016, dan beberapa bot yang sama kemudian digunakan untuk mempengaruhi pemilihan Prancis tahun 2017 (8). Bot juga digunakan untuk memanipulasi algoritma yang digunakan untuk memprediksi keterlibatan potensial oleh populasi yang lebih luas. Memang, sebuah rilis berita Facebook melaporkan peningkatan upaya manipulasi semacam ini selama pemilihan Amerika tahun 2016 (5).

Namun, dengan absennya metode yang terpercaya untuk mengidentifikasi apakah posting tersebut dilakukan oleh bot atau manusia pada platform tertentu, kita perlu berhati-hati membaca data prevalensi bot tersebut. Deteksi bot akan selalu menjadi permainan kucing dan tikus di mana sejumlah besar bot yang mirip dengan manusia namun tidak diketahui dan tidak terdeteksi. Keberhasilan mengidentifikasi bot, bagaimanapun, akan dimanfaatkan oleh produsen bot untuk membuat bot yang lebih canggih lagi. Pengenalan bot merupakan tantangan utama penelitian dan riset yang sedang berlangsung.

Kita bersama tahu bahwa, sama seperti berita yang benar dan sah, berita palsu juga telah beredar luas di media sosial. Namun, untuk mengetahui berapa banyak individu yang terpapar dan berbagi berita palsu tidaklah sama dengan mengetahui berapa banyak orang yang membaca atau terpengaruh oleh berita palsu tersebut. Penilaian dampak jangka menengah dan jangka panjang terhadap perilaku politik akibat terpapar berita palsu (misalnya, apa dan bagaimana memilih pemimpin politik) pada dasarnya tidak ada dalam literatur. Dampaknya mungkin saja kecil – bukti menunjukkan bahwa upaya kampanye politik untuk meyakinkan individu memilih seseorang mungkin memiliki efek terbatas (9). Namun, mediasi berita palsu melalui media sosial dapat menonjolkan pengaruh berita palsu ini karena terlihat afiliasi politik dan dukungan tersirat saat seseorang berbagi. Di luar dampak pemilihan, efek media umumnya menunjukkan banyak pengaruh potensial, mulai dari meningkatnya sinisme dan sikap apatis untuk mendorong ekstremisme. Dalam pada itu, masih sedikit evaluasi dampak berita palsu yang tersedia dan diketahui.

Intervensi Potensial

Intervensi apa yang mungkin ampuh dalam menghentikan aliran dan pengaruh berita palsu? Kami mengidentifikasi dua kategori intervensi: (i) yang ditujukan untuk memberdayakan individu agar dapat menilai berita palsu yang mereka hadapi, dan (ii) perubahan struktural yang ditujukan untuk pencegahan dini keterpaparan individu terhadap berita palsu.

Pemberdayaan Individu

Ada banyak cara untuk memeriksa fakta, misalnya dari situs web yang mengevaluasi klaim faktual laporan berita seperti PolitiFact dan Snopes, untuk mengevaluasi laporan berita oleh media yang terpercaya seperti Washington Post dan Wall Street Journal, dan mengenai informasi kontekstual konten sisipan oleh perantara – contohnya yang digunakan oleh Facebook.

Pemeriksaan fakta paling baik dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan cara agar lebih obyektif dan ilmiah. Hal ini mungkin mencerminkan kecenderungan lebih luas dalam kesadaran kolektif, sebagaimana perubahan struktural masyarakat kita. Orang cenderung tidak mempertanyakan kesahihan suatu informasi, kecuali informasi tersebut bertentangan dengan pemahaman mereka sebelumnya, atau ada keuntungan dengan mempertanyakannya. Jika tidak ada, maka orang akan menerima informasi tersebut tanpa kritik apapun. Orang juga cenderung mengaitkan keyakinan dengan nilai-nilai komunitas mereka.  

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang lebih menyukai informasi yang menegaskan sikap mereka yang sudah ada sebelumnya (paparan selektif), melihat informasi yang sesuai dengan pendapat mereka yang sudah ada karena lebih meyakinkan daripada informasi yang tidak selaras (bias konfirmasi), dan cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keinginan mereka (bias keinginan). Keyakinan partisan dan ideologi yang telah terbentuk sebelumnya dapat menolak hasil pemeriksaan fakta untuk konfirmasi sebuah berita palsu.

Pemeriksaan fakta bisa jadi akan kontraproduktif dalam situasi tertentu. Penelitian tentang pengaruh dan kemudahan mengingat informasi – serta bias kebiasaan dalam politik menunjukkan bahwa orang cenderung mengingat informasi dan perasaan yang ditimbulkannya dan melupakan konteks di mana mereka menemukan informasi tersebut. Selain itu, mereka cenderung menerima informasi yang biasa/lazim sebagai kenyataan (10). Dengan demikian, tak heran informasi palsu yang berulang – walaupun  dalam konteks pemeriksaan fakta – dapat diterima sebagai hal yang benar. Bukti-bukti efektivitas pengulangan klaim pada pemeriksaan fakta masih bercampur (11).  

Walaupun penelitian eksperimental dan survei telah mengkonfirmasi bahwa penerimaan sebagai kebenaran meningkat saat informasi palsu diulang-ulang, hal ini ternyata tidak terjadi bila informasi palsu dipasangkan dengan bantahannya yang sah. Beberapa riset menyarankan pengulangan informasi palsu sebelum koreksi bahkan mungkin bermanfaat. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menemukan titik temu dari kontradiksi ini dan menentukan kondisi di mana intervensi pemeriksaan fakta bekerja paling efektif.

Pendekatan jangka panjang lainnya adalah upaya memperbaiki penilaian individu terhadap kualitas sumber informasi melalui pendidikan. Telah ada upaya penyebarluasan pelatihan keterampilan kritis informasi di sekolah dasar dan menengah (12). Namun, belum dapat dipastikan apakah upaya tersebut mampu memperbaiki penilaian kredibilitas informasi, dan keterampilan penilaian tersebut dapat bertahan lama. Terlalu menekankan tentang berita palsu bisa jadi memiliki konsekuensi negatif, yaitu penurunan kepercayaan orang terhadap sumber-sumber berita nyata. Ada kebutuhan mendesak untuk evaluasi yang menyeluruh terhadap program intervensi pendidikan.

Deteksi dan Intervensi Berbasis Platform: Algoritma dan Bot

Platform internet telah menjadi pendukung terpenting dan saluran utama berita palsu. Cukup murah untuk membuat sebuah situs internet yang berkedok organisasi berita profesional. Juga sangat mudah memperoleh uang dari konten laman melalui iklan daring dan penyebaran melalui sosial media. Internet tidak hanya menyediakan wadah untuk mempublikasikan berita palsu, tetapi juga menawarkan perangkat-perangkat untuk menyebarluaskannya secara aktif.

Sekitar 47% rakyat Amerika mendapatkan berita melalui media sosial – misalnya Facebook – sebagai sumber dominan (13). Media sosial adalah saluran utama situs berita palsu (3). Menurut kesaksian Kongres baru-baru ini, Rusia berhasil memanipulasi semua platform utama media sosial selama pemilihan presiden Amerika 2016 (7).  

Bagaimana platform internet dan media sosial dapat membantu mengurangi penyebaran dan dampak berita palsu? Google, Facebook dan Twitter adalah penghubung kita ke sumber berita maupun juga ke teman dan saudara kita. Umumnya model bisnis mereka bergantung kepada monetisasi perhatian melalui iklan. Mereka menggunakan model statistik yang kompleks untuk memprediksi dan memaksimalkan keterlibatan dengan konten (14). Seharusnya memungkinan untuk menyesuaikan model tersebut dalam peningkatan kualitas informasi.

Platform dapat memberikan tanda kepada konsumen tentang kualitas sumber berita, yang dapat digabungkan ke dalam peringkat konten algoritmik. Mereka dapat mengurangi personalisasi informasi politik relatif terhadap jenis konten lainnya (media sosial dapat mengurangi terjadinya “ruang gema” berita-berita politik yang dibagikan oleh individu). Menciptakan fungsi yang mengenali konten yang sedang tren saat ini sekaligus mengecualikan aktivitas bot dari pengukuran tren tersebut. Secara umum, platform dapat mengekang penyebaran konten berita secara otomatis oleh bot dan cyborg (pengguna yang secara otomatis berbagi berita dari sekumpulan sumber yang telah ditentukan, dengan ataupun tanpa membacanya terlebih dahulu). Walaupun pada masa yang akan datang para produsen bot tentunya akan menemukan cara yang efektif untuk menghindari pembatasan ini.

Platform telah mencoba masing-masing langkah ini dan langkah lainnya (5, 15). Facebook mengumumkan berniat mengubah algoritma untuk memperhitungkan “kualitas” di proses kurasi kontennya. Twitter mengumumkan bahwa akan memblokir akun tertentu yang terkait dengan informasi palsu dari Rusia, dan memberitahu pengguna yang terpapar berita tersebut bahwa mungkin mereka telah tertipu. Namun para platform tersebut belum memberikan cukup detail untuk evaluasi oleh komunitas riset ataupun membuat temuan mereka dapat dilakukan peer-review. Hal ini membuat mereka diragukan sebagai sumber informasi oleh pengambil keputusan ataupun masyarakat umum.

Kami mendorong platform berkolaborasi dengan akademisi independen dalam mengevaluasi isu berita palsu dan perancangan serta efektivitas intervensi yang dapat dilakukan. Hanya ada sedikit penelitian tentang berita palsu dan tidak ada pengumpulan data yang komprehensif untuk memberikan pemahaman dinamis tentang bagaimana sistem penyedia berita palsu berevolusi. Tidak mungkin menciptakan kembali Google tahun 2010. Google sendiri tidak dapat melakukannya walaupun mereka memiliki kode dasarnya, karena pola tersebut muncul dari interaksi rumit antara kode, konten dan pengguna. Namun memungkinkan untuk mencatat apa yang Google lakukan di 2018. Secara umum, peneliti perlu melakukan audit yang ketat dan berkelanjutan tentang bagaimana platform-platform utama menyaring informasi.

Ada tantangan untuk kolaborasi ilmiah dari sudut pandang industri dan akademis. Namun, ada juga tanggungjawab etis dan sosial, melampaui kekuatan pasar, agar platform-platform dapat menyumbangkan data unik mereka untuk menganalisis berita palsu secara ilmiah.
Kemungkinan efektivitas kebijakan berbasis platform akan menunjuk baik pada peraturan pemerintah mengenai platform atau pengaturan mandiri. Pengaturan langsung pemerintah pada suatu area sensitif seperti berita publik, akan membawa resiko-resiko sendiri, konstitusional dan lain-lain. Sebagai contoh, dapatkah regulator mempertahankan (dan memelihara) sikap ketidakberpihakan dalam menentukan, memaksakan dan menegakkan persyaratan? Umumnya, semua intervensi langsung dari pemerintah ataupun dari penyedia layanan yang mencegah pengguna melihat konten, akan menimbulkan ketakutan tentang upaya sensor dari pemerintah ataupun dari penyedia layanan.

Salah satu alternatif untuk pengaturan langsung pemerintah adalah tuntutan hukum delik aduan, misalnya tuntutan penghinaan dari orang-orang yang secara langsung merasa dirugikan oleh penyebaran berita palsu. Mencermati peran platform dalam menyebarluaskan cerita palsu (tetapi masih tetap persuasif), ada kemungkinan menutut pertanggungjawaban platform sesuai dengan hukum konstitusional yang berlaku, yang pada gilirannya menekan platform untuk campur tangan lebih sering dalam pembatasan berita palsu. Dalam konteks Amerika Serikat, ketentuan Undang Undang Kepatutan Komunikasi tahun 1996 menawarkan kekebalan hampir menyeluruh terhadap platform untuk pernyataan palsu atau pernyataan yang dapat dituntut – yang ditulis oleh orang lain. Setiap perubahan pada aturan pemerintah legal ini akan menimbulkan masalah serius tentang sejauh mana konten platform (dan keputusan kurasi konten) ditinjau ulang oleh orang-orang yang mengklaim “terluka” dengan isi konten tersebut. Di Eropa berlaku “Hak Untuk Dilupakan” pada mesin pencari – yang menguji masalah-masalah ini.

Intervensi struktural umumnya menimbulkan kekhawatiran tentang menghormati hak-hak perusahaan swasta dan manusia secara personal. Namun sebagaimana perusahaan media di abad ke 20 membentuk paparan informasi pada orang-orang, oligopoli internet yang jauh lebih luas sudah membentuk pengalaman manusia dalam skala global. Pertanyaan bagi kita kemudian adalah bagaimana menggunakan kekuatan besar itu, dan bagaimana membuat perusahaan-perusahaan besar tersebut bertanggungjawab dalam menggunakannya.

Agenda Masa Depan

Misi kami adalah untuk mempromosikan penelitian interdisipliner guna mengurangi penyebaran berita palsu dan untuk mengatasi kerusakan yang telah diungkapkannya. Kesalahan media berita Amerika pada awal abad 20 menyebabkan munculnya norma dan praktik jurnalistik yang walaupun belum sempurna namun telah cukup baik memberikan informasi yang obyektif dan kredibel. Kita perlu merancang ulang ekosistem informasi kita di abad ke-21.  Upaya ini harus berskala global karena banyak negara yang menghadapi tantangan seputar berita palsu dan berita nyata yang lebih akut dan parah dibandingkan di Amerika Serikat. Beberapa diantara negara-negara itu belum pernah mengembangkan ekosistem berita yang kuat. Lebih luas lagi, kita perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: Bagaimana kita bisa menciptakan ekosistem berita dan budaya yang menghargai dan mempromosikan kebenaran?

Rujukan dan catatan:
1.       C. Wardle, H. Derakhshan, “Information disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making” [Council of Europe policy report DGI(2017)09, Council of Europe, 2017];https://firstdraftnews.com/wp-content/uploads/2017/11/PREMS-162317-GBR-2018-Report-de%CC%81sinformation-1.pdf?x29719.
  1. A. Swift, Americans' trust in mass media sinks to new low (Gallup, 2016);www.gallup.com/poll/195542/americans-trust-mass-media-sinks-new-low.aspx.
3.       H. Allcott, M. Gentzkow, J. Econ. Perspect. 31, 211 (2017).
4.       S. Vosoughi et al., Science 359, 1146 (2018).
5.       J. Weedon et al., Information operations and Facebook (Facebook, 2017);https://fbnewsroomus.files.wordpress.com/2017/04/facebook-and-information-operations-v1.pdf.
6.       O. Varol et al., in Proceedings of the 11th AAAI Conference on Web and Social Media (Association for the Advancement of Artificial Intelligence, Montreal, 2017), pp. 280–289.
7.       Senate Judiciary Committee, Extremist content and Russian disinformation online: Working with tech to find solutions (Committee on the Judiciary, 2017); www.judiciary.senate.gov/meetings/extremist-content-and-russian-disinformation-online-working-with-tech-to-find-solutions.
8.       E. Ferrara, First Monday 22, 2017 (2017).
9.       J. L. Kalla, D. E. Broockman, Am. Polit. Sci. Rev. 112, 148 (2018).
10.   B. Swire et al., J. Exp. Psychol. Learn. Mem. Cogn. 43, 1948 (2017).
11.   U. K. H. Ecker et al., J. Appl. Res. Mem. Cogn. 6, 185 (2017).
12.   C. Jones, Bill would help California schools teach about “fake news,” media literacy (EdSource, 2017);https://edsource.org/2017/bill-would-help-california-schoolsteach-about-fake-news-media-literacy/582363.
13.   Gottfried, E. Shearer, News use across social media platforms 2017, Pew Research Center, 7 September2017; www.journalism.org/2017/09/07/news-use-across-social-media-platforms-2017/.
14.   E. Bakshy et al., Science 348, 1130 (2015).
15.    C. Crowell, Our approach to bots & misinformation, Twitter, 14 June 2017;https://blog.twitter.com/official/en_us/topics/company/2017/Our-Approach-Bots-Misinformation.html.

Supplementary Materials



12 March 2018


Penyebaran Berita Benar dan Berita Keliru (hoax) secara Online

Tulisan ini adalah interpretasi bebas dari artikel: “The Spread of True and False News Online” yang dimuat di Science Mag di laman: http://science.sciencemag.org/content/359/6380/1146
Terbit tanggal 9 Maret 2018.


Lihat juga artikel lainnya: https://sanjayaden.blogspot.com/2018/03/berita-palsu-darisudut-pandang-ilmiah.html


Dalam beberapa tahun terakhir rakyat Indonesia disuguhi beragam kabar di internet dan media sosial yang kerap memancing emosi walaupun belum terbukti kebenarannya. Penyebaran berita menjadi begitu masif dan tidak terbendung, terutama melalui grup-grup komunikasi seperti WhatsApp Group, milis, laman Facebook, Instagram, Twitter, dan aplikasi-aplikasi media sosial lainnya. Berita sangat mudah dipercaya terlebih jika kabar tersebut disebarkan oleh orang yang dikenal baik di dunia nyata. Kecerdasan dan kewaspadaan para pengguna internet selalu memeriksa kebenaran suatu berita yang dibacanya sangat diperlukan untuk menjaga tatanan sosial, sehingga tidak mudah terpancing menyebarkan berita palsu atau hoax.

Teknologi sosial yang baru – yang menyediakan akses untuk berbagi berita secara cepat, berjenjang, dan dalam skala besar – dapat ditumpangi berita-berita palsu yang akan turut juga disebarkan dengan cepat, berjenjang dan berskala besar pula. Dalam pemahaman logis, baik berita benar maupun keliru (hoax) akan disebarkan dengan skala dan kekuatan yang sama melalui teknologi sosial ini. Namun kita cenderung untuk tertarik pada berita yang bombastis dan spektakuler dan menyebarkannya tanpa berpikir panjang apakah berita tersebut benar atau palsu.

Suatu studi yang dipublikasikan baru-baru ini dilakukan oleh Soroush Vosoughi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah menelaah 126,000 berita yang di-twit oleh 3 juta orang sebanyak 4,5 juta kali, yang disebarkan melalui Twitter periode tahun 2006 – 2017. Konfirmasi salah atau benar berita-berita tersebut diperoleh dari enam organisasi pemeriksa fakta independen yang menunjukkan 95 – 98% keakuratan. Penelitian tersebut memaparkan bahwa berita palsu (hoax) secara signifikan menyebar lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam dan lebih luas dibandingkan dengan kebenaran. Berita palsu 70% lebih mungkin akan dibagikan kembali dibandingkan dengan berita benar. Efek berita palsu lebih besar untuk topik kategori politik dibandingkan dengan berita palsu kategori terorisme, bencana alam, sains, ataupun keuangan.  Dalam pemaparannya, Vosoughi mendapati berita kategori politik menempati porsi terbesar dalam penelitian ini, yaitu sekitar 45,000 kaskade (cascade) berita. Cukup menarik mendapati bahwa berita keliru ataupun hoax ditemukan memuncak pada tahun 2013 dan 2015 – 2016, berkaitan dengan pemilihan presiden Amerika Serikat.

Berita Palsu vs Berita Benar

Sekarang, apa yang terjadi pada penyebaran berita palsu dibandingkan dengan berita benar? Vosoughi memaparkan bahwa secara berkaskade berita palsu disebarkan oleh lebih banyak orang di Twitter. Pengertian kaskade adalah: A menulis satu twit berita, kemudian B meretwit berita tersebut, C meretwit dari B dan D meretwit dari C, maka total ada 4 kaskade penyebaran berita.  Berita keliru atau hoax di retwit lebih banyak dari berita benar, yaitu sampai 19 kaskade (Grafik 2A). Sementara berita benar paling banyak adalah 10 kaskade. Berita benar jarang tersebar melebihi jumlah 1,000 orang, sementara berita keliru menyebar antara 1,000 sampai 100,000 orang (Grafik 2B). Orang juga terlihat lebih sering menyebarkan kembali berita keliru dibandingkan menyebarkan berita benar, sehingga penyebaran berita keliru sangat terbantu efek viralitas – di mana berita keliru lebih tersebar intensif pada koneksi teman-ke-teman daripada melalui mekanisme dinamika siaran (broadcast).

Grafik 2:


Berita benar membutuhkan upaya 6 kali lebih besar daripada berita palsu untuk mencapai 1,500 orang, dan 20 kali lebih besar untuk mencapai kedalaman 10 kaskade. Namun karena berita benar tidak pernah mencapai kedalaman lebih dari 10 kaskade, maka bisa dikatakan bahwa berita keliru mencapai kedalaman 19 kaskade 10 kali lebih cepat daripada berita benar mencapai kedalaman 10 kaskade (Grafik 2E). Berita palsu secara signifikan disebaran lebih luas (Grafik 2H) dan di retwit oleh orang-orang baru di tiap kedalaman kaskade (Grafik 2G).

Berita Politik Palsu

Berita politik yang keliru tersebar lebih dalam (Grafik 3A) dan lebih luas (Grafik 3C), dan mencapai lebih banyak orang (Grafik 3B). Berita kategori ini juga lebih viral dibandingkan berita keliru dari kategori lainnya (Grafik 3D).

Grafik 3:


Juga berita politik palsu ternyata tersebar lebih dalam dan lebih cepat (Grafik 3E) dan mencapai lebih dari 20,000 orang hampir 3 kali lebih cepat dari tipe-tipe berita palsu lainnya mencapai 10,000 pemirsa Grafik 3F). Menarik sekali mencermati bahwa berita politik palsu ternyata tersebar lebih luas di kaskade yang lebih dalam, dibandingkan berita palsu lainnya yang lebih luas tersebar di kaskade yang lebih dangkal. Hal ini menunjukkan bahwa berita politik palsu ternyata memiliki dinamika penyebaran yang lebih luas dan lebih cepat.

Karakteristik penyebar berita:


Kita patut menduga bahwa ada faktor karakter individual dari pengguna Twitter yang berperan sehingga penyebaran berita-berita palsu berlangsung lebih cepat dari berita benar. Kita bisa berasumsi mereka yang menyebarkan berita palsu mengikuti lebih banyak orang dan mempunya pengikut yang cukup banyak juga, lebih sering menulis di Twitter, atau sudah lama berada di Twitter. Namun penelitian menunjukkan hal yang kebalikan. Pengguna Twitter yang banyak menyebarluaskan berita palsu ternyata umumnya mempunyai sedikit pengikut, mengikuti lebih sedikit akun Twitter, kurang aktif di Twitter, lebih jarang di-verifikasi dan belum lama berada di Twitter.

Peneliti mencari kemungkinan alternatif lain yang bisa menjelaskan mengapa berita palsu lebih cepat menyebar dibandingkan berita benar, karena faktor karakteristik pengguna Twitter tidak signifikan berpengaruh. Salah satu teori informasi dan teori Bayesian menyebutkan bahwa sesuatu yang baru (novelty) menarik perhatian manusia, mendorong pembuatan keputusan dan mendorong berbagi informasi. Hal baru dianggap bermanfaat karena memperbarui pemahaman manusia tentang dunia. Informasi yang baru tidak hanya dianggap sangat menarik, tetapi juga sangat berharga dalam perspektif teori (membantu mengambil keputusan) dan perspektif sosial (meningkatkan status sosial sebagai orang yang lebih tahu).

Untuk membuktikan teori ini, peneliti memilih secara acak 5,000 pengguna Twitter yang meneruskan berita benar maupun berita palsu dan menganalisis sekitar 25,000 twit yang mereka terima dalam kurun waktu 60 hari sebelum mereka memutuskan me-retwit sebuah isu (berita benar atau berita palsu). Peneliti menemukan bahwa isu palsu secara signifikan dianggap lebih menarik dan baru dibandingkan isu benar. Berita palsu lebih mengundang reaksi terkejut – menguatkan hipotesis tentang sesuatu yang baru (novelty). Juga berita palsu lebih berkaitan dengan emosi memuakkan (disgust) sementara berita benar lebih membangkitkan emosi kesedihan (sadness). Peneliti menyimpulkan bahwa berita palsu dianggap sebagai berita baru yang lebih menarik, dan sesuatu yang baru dan menarik lebih dipilih untuk dibagikan.  Jelas bahwa penyebaran berita palsu bukan dilakukan oleh robot, melainkan oleh manusia karena melibatkan faktor emosi.

Dari beberapa pemaparan peneliti di atas, dapat disimpulkan bahwa:
  1. Penyebaran berita palsu lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam dan lebih luas dibandingkan penyebaran berita yang mengandung informasi yang benar.
  2. Berita palsu dengan topik politik menyebar lebih cepat, lebih luas, lebih dalam dan mencapai lebih banyak orang dibandingkan berita-berita palsu dengan topik lainnya. 
  3. Perilaku manusia lebih berpengaruh sebagai faktor pada penyebaran berita palsu ataupun berita benar, dibandingkan dengan mesin otomatis / bot. Perilaku ini tidak terkait dengan faktor keaktifan di sosial media (Twitter), banyaknya pengikut, banyaknya akun yang diikuti, ataupun lama memiliki akun tersebut.

Rekomendasi:
  • Perlu kebijakan intervensi perilaku misalnya dengan pujian dan penghargaan bagi akun yang melawan berita palsu, mempromosikan berita benar, dan sebaliknya menghukum orang yang menyebarluaskan berita palsu.
  • Perlu penelitian lebih lanjut faktor-faktor penentu penilaian manusia yang mendorong pengambilan keputusan penyebarluasan berita benar dan berita palsu.

Semoga tulisan ini dapat memberikan perspektif baru bagi rekan-rekan, terutama bagi mereka yang berupaya melawan berita-berita palsu di dunia maya. Tetap semangat dan pantang menyerah menghadapi hoax!

Tabik!



#beritahoax
#falsenews
#penyebaranhoax
#ujarankebencian
#beritapalsu