BERITA PALSU DARI
SUDUT PANDANG ILMIAH
Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari artikel berjudul The Science of Fake News yang dimuat
dalam majalah Science terbit
tanggal 09 Mar 2018: Vol. 359, Issue
6380, halaman 1094-1096.
Lihat juga artikel lainnya: https://sanjayaden.blogspot.com/2018/03/penyebaran-berita-benar-danberita.html
Kebangkitan berita palsu menunjukkan bobolnya benteng pertahanan
yang sudah lama membendung arus informasi palsu di abad internet ini.
Kekhawatiran ini dialami secara global di seluruh dunia. Sayangnya, masih
banyak yang belum kita ketahui tentang kerentanan individu, institusi dan masyarakat
terhadap manipulasi para pelaku kejahatan yang menyebarkan berita palsu,
sehingga diperlukan sebuah sistem keamanan untuk menjaganya. Di bawah ini kita akan mendiskusikan
penelitian-penelitian ilmu komputer dan sosial tentang tingkat kepercayaan terhadap
berita palsu dan mekanisme penyebaran berita palsu tersebut.
Berita palsu mempunyai sejarah yang panjang, namun kita akan fokus
pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang tak terjawab, yang muncul akibat perkembangan
terbaru berita palsu berorientasi politik. Di luar dari bahan-bahan rujukan
terpilih dalam pembahasan ini, kami menyarankan pembaca mencari bacaan-bacaan
lebih lanjut yang dimuat dalam materi-materi tambahan.
Apa itu
Berita Palsu?
Kami mendefinisikan “berita palsu” sebagai informasi palsu yang
dibuat meniru bentuk konten media pemberitaan, namun tidak dibuat melalui
proses dan maksud sebagaimana media berita lakukan. Berita palsu tidak
mempunyai norma-norma editorial dan tidak melalui proses menjamin akurasi dan
kredibilitas informasi. Berita palsu bertumpang tindih dengan berbagai
kekacauan informasi, seperti informasi keliru (salah atau menyesatkan) dan
disinformasi (informasi tidak benar yang sengaja disebarkan untuk menipu
orang).
Berita palsu yang terutama menarik perhatian dalam konteks politik
baru-baru ini, ternyata juga ditemukan tersebar luas dalam topik-topik lainnya
seperti vaksinasi, gizi, dan bursa saham. Berita palsu sangat merugikan karena
sifatnya yang seperti parasit bagi media berita standar, yaitu mengambil
keuntungan dari dan sekaligus menurunkan kredibilitas sumber-sumber berita
standar.
Beberapa media sosial – khususnya First Draft dan Facebook – sering
berhubungan dengan sebutan “berita palsu” karena banyaknya berita palsu dimuat
di media-media tersebut sebagai senjata politik (1). Kami sengaja memperhatikan
kedua media tersebut karena nilai konstruksi ilmiahnya, dan karena kepentingan
politik menarik perhatian orang-orang pada topik yang penting.
Latar
Belakang Sejarah
Norma berita obyektif dan berimbang muncul sebagai reaksi balik kalangan
jurnalis terhadap penggunaan propaganda masif dalam Perang Dunia Pertama (yang
tak lepas dari peran para jurnalis sendiri dalam penyebarannya), dan dalam
kebangkitan masyarakat korporat di era tahun 1920-an. Oligopoli lokal maupun
nasional yang tercipta dari teknologi penyebaran informasi abad ke-20 (media
cetak dan siaran) terus menerus menyebarkan norma-norma ini. Kehadiran internet
mempermudah masuknya saingan baru dalam bisnis informasi ini – yang banyak
diantaranya menolak norma-norma tersebut – dan merongrong kemapanan bisnis
berita tradisional yang telah menikmati kepercayaan publik dan kredibilitas
yang tinggi. Tingkat kepercayaan umum pada media massa tradisional merosot
terendah dalam sejarah pada tahun 2016 ketika hanya 51% pendukung partai Demokrat dan 14% pendukung partai
Republik di Amerika Serikat yang mengungkapkan kepercayaan terhadap media massa
sebagai sumber berita (2).
Amerika Serikat telah mengalami evolusi geopolitik dan
sosiopolitik pararel. Polarisasi geografis keinginan partisan telah meningkat pesat
dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, sehingga mengurangi kesempatan interaksi
politik lintas bidang. Jejaring sosial yang homogen pada akhirnya menurunkan
toleransi terhadap pandangan-pandangan alternatif, menguatkan polarisasi sikap,
mendorong kemungkinan menerima berita yang kompatibel secara ideologis, dan menutup
pintu bagi informasi baru. Ketidaksukaan terhadap “pihak yang lain” (polarisasi
afektif) juga makin menguat. Kecenderungan-kecenderungan ini telah menciptakan
situasi di mana berita palsu menarik perhatian khalayak ramai.
Prevalensi
dan Dampak
Seberapa umum kah berita palsu, dan apa dampaknya terhadap
individu? Ternyata ada jawaban ilmiah untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar ini.
Dalam mengevaluasi prevalensi berita palsu, kami lebih berfokus
kepada sumber utamanya – para penerbit – dari pada kepada cerita-cerita
individu. Kami melihat peran penerbit sangat dominan untuk menentukan tujuan
penayangan berita palsu dan juga proses pengolahannya. Fokus pada penerbit juga
menghindarkan kami dari kewajiban memeriksa kebenaran setiap cerita satu
persatu.
Suatu penelitian mengevaluasi penyebaran berita palsu melaporkan bahwa
rata-rata orang Amerika mendapat antara satu sampai tiga cerita dari penerbit
berita palsu selama sebulan sebelum pemilihan presiden 2016 (3).
Ini mungkin perkiraan yang konservatif karena penelitian hanya menelusuri
156 berita palsu. Penelitian lain melaporkan informasi palsu di Twitter
biasanya di-retwit lebih cepat dan oleh banyak orang daripada informasi yang
benar, terutama bila topiknya adalah politik (4). Facebook
memperkirakan bahwa manipulasi oleh pelaku kejahatan menyumbang kurang dari
sepersepuluh dari 1% konten masyarakat yang dibagikan di platform tersebut (5),
walaupun analisis datanya tidak ditunjukkan secara terinci.
Dengan menyukai, berbagi, dan mencari informasi, bots sosial (akun
otomatis yang meniru identitas manusia) dapat memperluas penyebaran berita
palsu berdasarkan urutan kepentingannya. Diperkirakan 9 – 15% akun Twitter
aktif adalah bot (6). Facebook memperkirakan sekitar 60 juta bots (7)
kemungkinan menghuni platformnya. Mereka bertanggung jawab atas sebagian
besar konten politik yang diposkan pada kampanye Amerika Serikat tahun 2016,
dan beberapa bot yang sama kemudian digunakan untuk mempengaruhi pemilihan
Prancis tahun 2017 (8). Bot juga digunakan untuk memanipulasi algoritma yang
digunakan untuk memprediksi keterlibatan potensial oleh populasi yang lebih
luas. Memang, sebuah rilis berita Facebook melaporkan peningkatan upaya manipulasi
semacam ini selama pemilihan Amerika tahun 2016 (5).
Namun, dengan absennya metode yang terpercaya untuk mengidentifikasi
apakah posting tersebut dilakukan oleh bot atau manusia pada platform tertentu,
kita perlu berhati-hati membaca data prevalensi bot tersebut. Deteksi bot akan
selalu menjadi permainan kucing dan tikus di mana sejumlah besar bot yang mirip
dengan manusia namun tidak diketahui dan tidak terdeteksi. Keberhasilan
mengidentifikasi bot, bagaimanapun, akan dimanfaatkan oleh produsen bot untuk
membuat bot yang lebih canggih lagi. Pengenalan bot merupakan tantangan utama penelitian
dan riset yang sedang berlangsung.
Kita bersama tahu bahwa, sama seperti berita yang benar dan sah,
berita palsu juga telah beredar luas di media sosial. Namun, untuk mengetahui
berapa banyak individu yang terpapar dan berbagi berita palsu tidaklah sama
dengan mengetahui berapa banyak orang yang membaca atau terpengaruh oleh berita
palsu tersebut. Penilaian dampak jangka menengah dan jangka panjang terhadap
perilaku politik akibat terpapar berita palsu (misalnya, apa dan bagaimana
memilih pemimpin politik) pada dasarnya tidak ada dalam literatur. Dampaknya
mungkin saja kecil – bukti menunjukkan bahwa upaya kampanye politik untuk
meyakinkan individu memilih seseorang mungkin memiliki efek terbatas (9).
Namun, mediasi berita palsu melalui media sosial dapat menonjolkan pengaruh
berita palsu ini karena terlihat afiliasi politik dan dukungan tersirat saat seseorang
berbagi. Di luar dampak pemilihan, efek media umumnya menunjukkan banyak pengaruh
potensial, mulai dari meningkatnya sinisme dan sikap apatis untuk mendorong
ekstremisme. Dalam pada itu, masih sedikit evaluasi dampak berita palsu yang
tersedia dan diketahui.
Intervensi
Potensial
Intervensi apa yang mungkin ampuh dalam menghentikan aliran dan
pengaruh berita palsu? Kami mengidentifikasi dua kategori intervensi: (i) yang
ditujukan untuk memberdayakan individu agar dapat menilai berita palsu yang
mereka hadapi, dan (ii) perubahan struktural yang ditujukan untuk pencegahan dini
keterpaparan individu terhadap berita palsu.
Pemberdayaan
Individu
Ada banyak cara untuk memeriksa fakta, misalnya dari situs web
yang mengevaluasi klaim faktual laporan berita seperti PolitiFact dan Snopes,
untuk mengevaluasi laporan berita oleh media yang terpercaya seperti Washington
Post dan Wall Street Journal, dan mengenai informasi kontekstual konten sisipan
oleh perantara – contohnya yang digunakan oleh Facebook.
Pemeriksaan fakta paling baik dilakukan dengan menggunakan berbagai
metode dan cara agar lebih obyektif dan ilmiah. Hal ini mungkin mencerminkan
kecenderungan lebih luas dalam kesadaran kolektif, sebagaimana perubahan
struktural masyarakat kita. Orang cenderung tidak mempertanyakan kesahihan
suatu informasi, kecuali informasi tersebut bertentangan dengan pemahaman mereka
sebelumnya, atau ada keuntungan dengan mempertanyakannya. Jika tidak ada, maka
orang akan menerima informasi tersebut tanpa kritik apapun. Orang juga
cenderung mengaitkan keyakinan dengan nilai-nilai komunitas mereka.
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang lebih menyukai informasi
yang menegaskan sikap mereka yang sudah ada sebelumnya (paparan selektif),
melihat informasi yang sesuai dengan pendapat mereka yang sudah ada karena
lebih meyakinkan daripada informasi yang tidak selaras (bias konfirmasi), dan
cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keinginan mereka (bias
keinginan). Keyakinan partisan dan ideologi yang telah terbentuk sebelumnya
dapat menolak hasil pemeriksaan fakta untuk konfirmasi sebuah berita palsu.
Pemeriksaan fakta bisa jadi akan kontraproduktif dalam situasi
tertentu. Penelitian tentang pengaruh dan kemudahan mengingat informasi – serta
bias kebiasaan dalam politik menunjukkan bahwa orang cenderung mengingat
informasi dan perasaan yang ditimbulkannya dan melupakan konteks di mana mereka
menemukan informasi tersebut. Selain itu, mereka cenderung menerima informasi
yang biasa/lazim sebagai kenyataan (10). Dengan demikian, tak heran
informasi palsu yang berulang – walaupun dalam konteks pemeriksaan fakta – dapat diterima
sebagai hal yang benar. Bukti-bukti efektivitas pengulangan klaim pada
pemeriksaan fakta masih bercampur (11).
Walaupun penelitian eksperimental dan survei telah mengkonfirmasi
bahwa penerimaan sebagai kebenaran meningkat saat informasi palsu
diulang-ulang, hal ini ternyata tidak terjadi bila informasi palsu dipasangkan
dengan bantahannya yang sah. Beberapa riset menyarankan pengulangan informasi
palsu sebelum koreksi bahkan mungkin bermanfaat. Perlu penelitian lebih lanjut
untuk menemukan titik temu dari kontradiksi ini dan menentukan kondisi di mana intervensi
pemeriksaan fakta bekerja paling efektif.
Pendekatan jangka panjang lainnya adalah upaya memperbaiki
penilaian individu terhadap kualitas sumber informasi melalui pendidikan. Telah
ada upaya penyebarluasan pelatihan keterampilan kritis informasi di sekolah dasar
dan menengah (12). Namun, belum dapat dipastikan apakah upaya tersebut mampu
memperbaiki penilaian kredibilitas informasi, dan keterampilan penilaian tersebut
dapat bertahan lama. Terlalu menekankan tentang berita palsu bisa jadi memiliki
konsekuensi negatif, yaitu penurunan kepercayaan orang terhadap sumber-sumber
berita nyata. Ada kebutuhan mendesak untuk evaluasi yang menyeluruh terhadap program
intervensi pendidikan.
Deteksi
dan Intervensi Berbasis Platform: Algoritma dan Bot
Platform internet telah menjadi pendukung terpenting dan saluran
utama berita palsu. Cukup murah untuk membuat sebuah situs internet yang
berkedok organisasi berita profesional. Juga sangat mudah memperoleh uang dari
konten laman melalui iklan daring dan penyebaran melalui sosial media. Internet
tidak hanya menyediakan wadah untuk mempublikasikan berita palsu, tetapi juga
menawarkan perangkat-perangkat untuk menyebarluaskannya secara aktif.
Sekitar 47% rakyat Amerika mendapatkan berita melalui media sosial
– misalnya Facebook – sebagai sumber dominan (13). Media sosial adalah
saluran utama situs berita palsu (3). Menurut kesaksian Kongres
baru-baru ini, Rusia berhasil memanipulasi semua platform utama media sosial
selama pemilihan presiden Amerika 2016 (7).
Bagaimana platform internet dan media sosial dapat membantu
mengurangi penyebaran dan dampak berita palsu? Google, Facebook dan Twitter
adalah penghubung kita ke sumber berita maupun juga ke teman dan saudara kita. Umumnya
model bisnis mereka bergantung kepada monetisasi perhatian melalui iklan. Mereka
menggunakan model statistik yang kompleks untuk memprediksi dan memaksimalkan
keterlibatan dengan konten (14). Seharusnya memungkinan untuk
menyesuaikan model tersebut dalam peningkatan kualitas informasi.
Platform dapat memberikan tanda kepada konsumen tentang kualitas
sumber berita, yang dapat digabungkan ke dalam peringkat konten algoritmik. Mereka
dapat mengurangi personalisasi informasi politik relatif terhadap jenis konten
lainnya (media sosial dapat mengurangi terjadinya “ruang gema” berita-berita
politik yang dibagikan oleh individu). Menciptakan fungsi yang mengenali konten
yang sedang tren saat ini sekaligus mengecualikan aktivitas bot dari pengukuran
tren tersebut. Secara umum, platform dapat mengekang penyebaran konten berita secara
otomatis oleh bot dan cyborg (pengguna yang secara otomatis berbagi berita dari
sekumpulan sumber yang telah ditentukan, dengan ataupun tanpa membacanya
terlebih dahulu). Walaupun pada masa yang akan datang para produsen bot tentunya
akan menemukan cara yang efektif untuk menghindari pembatasan ini.
Platform telah mencoba masing-masing langkah ini dan langkah
lainnya (5, 15). Facebook
mengumumkan berniat mengubah algoritma untuk memperhitungkan “kualitas” di
proses kurasi kontennya. Twitter mengumumkan bahwa akan memblokir akun tertentu
yang terkait dengan informasi palsu dari Rusia, dan memberitahu pengguna yang
terpapar berita tersebut bahwa mungkin mereka telah tertipu. Namun para
platform tersebut belum memberikan cukup detail untuk evaluasi oleh komunitas
riset ataupun membuat temuan mereka dapat dilakukan peer-review. Hal ini
membuat mereka diragukan sebagai sumber informasi oleh pengambil keputusan
ataupun masyarakat umum.
Kami mendorong platform berkolaborasi dengan akademisi independen
dalam mengevaluasi isu berita palsu dan perancangan serta efektivitas
intervensi yang dapat dilakukan. Hanya ada sedikit penelitian tentang berita
palsu dan tidak ada pengumpulan data yang komprehensif untuk memberikan
pemahaman dinamis tentang bagaimana sistem penyedia berita palsu berevolusi. Tidak
mungkin menciptakan kembali Google tahun 2010. Google sendiri tidak dapat
melakukannya walaupun mereka memiliki kode dasarnya, karena pola tersebut
muncul dari interaksi rumit antara kode, konten dan pengguna. Namun memungkinkan
untuk mencatat apa yang Google lakukan di 2018. Secara umum, peneliti perlu
melakukan audit yang ketat dan berkelanjutan tentang bagaimana
platform-platform utama menyaring informasi.
Ada tantangan untuk kolaborasi ilmiah dari sudut pandang industri
dan akademis. Namun, ada juga tanggungjawab etis dan sosial, melampaui kekuatan
pasar, agar platform-platform dapat menyumbangkan data unik mereka untuk menganalisis
berita palsu secara ilmiah.
Kemungkinan efektivitas kebijakan berbasis platform akan menunjuk
baik pada peraturan pemerintah mengenai platform atau pengaturan mandiri. Pengaturan
langsung pemerintah pada suatu area sensitif seperti berita publik, akan
membawa resiko-resiko sendiri, konstitusional dan lain-lain. Sebagai contoh,
dapatkah regulator mempertahankan (dan memelihara) sikap ketidakberpihakan dalam
menentukan, memaksakan dan menegakkan persyaratan? Umumnya, semua intervensi
langsung dari pemerintah ataupun dari penyedia layanan yang mencegah pengguna
melihat konten, akan menimbulkan ketakutan tentang upaya sensor dari pemerintah
ataupun dari penyedia layanan.
Salah satu alternatif untuk pengaturan langsung pemerintah adalah
tuntutan hukum delik aduan, misalnya tuntutan penghinaan dari orang-orang yang secara
langsung merasa dirugikan oleh penyebaran berita palsu. Mencermati peran
platform dalam menyebarluaskan cerita palsu (tetapi masih tetap persuasif), ada
kemungkinan menutut pertanggungjawaban platform sesuai dengan hukum
konstitusional yang berlaku, yang pada gilirannya menekan platform untuk campur
tangan lebih sering dalam pembatasan berita palsu. Dalam konteks Amerika
Serikat, ketentuan Undang Undang Kepatutan Komunikasi tahun 1996 menawarkan kekebalan
hampir menyeluruh terhadap platform untuk pernyataan palsu atau pernyataan yang
dapat dituntut – yang ditulis oleh orang lain. Setiap perubahan pada aturan
pemerintah legal ini akan menimbulkan masalah serius tentang sejauh mana konten
platform (dan keputusan kurasi konten) ditinjau ulang oleh orang-orang yang
mengklaim “terluka” dengan isi konten tersebut. Di Eropa berlaku “Hak Untuk
Dilupakan” pada mesin pencari – yang menguji masalah-masalah ini.
Intervensi struktural umumnya menimbulkan kekhawatiran tentang
menghormati hak-hak perusahaan swasta dan manusia secara personal. Namun
sebagaimana perusahaan media di abad ke 20 membentuk paparan informasi pada
orang-orang, oligopoli internet yang jauh lebih luas sudah membentuk pengalaman
manusia dalam skala global. Pertanyaan bagi kita kemudian adalah bagaimana menggunakan
kekuatan besar itu, dan bagaimana membuat perusahaan-perusahaan besar tersebut
bertanggungjawab dalam menggunakannya.
Agenda
Masa Depan
Misi kami adalah untuk mempromosikan penelitian interdisipliner guna
mengurangi penyebaran berita palsu dan untuk mengatasi kerusakan yang telah
diungkapkannya. Kesalahan media berita Amerika pada awal abad 20 menyebabkan munculnya
norma dan praktik jurnalistik yang walaupun belum sempurna namun telah cukup
baik memberikan informasi yang obyektif dan kredibel. Kita perlu merancang
ulang ekosistem informasi kita di abad ke-21. Upaya ini harus berskala global karena banyak
negara yang menghadapi tantangan seputar berita palsu dan berita nyata yang
lebih akut dan parah dibandingkan di Amerika Serikat. Beberapa diantara
negara-negara itu belum pernah mengembangkan ekosistem berita yang kuat. Lebih
luas lagi, kita perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: Bagaimana kita
bisa menciptakan ekosistem berita dan budaya yang menghargai dan mempromosikan
kebenaran?
Rujukan
dan catatan:
- A. Swift,
Americans' trust in mass media sinks to new low (Gallup, 2016);www.gallup.com/poll/195542/americans-trust-mass-media-sinks-new-low.aspx.
3.
H. Allcott, M. Gentzkow, J.
Econ. Perspect. 31, 211 (2017).
4.
S. Vosoughi et
al., Science 359, 1146 (2018).
6.
O. Varol et
al., in Proceedings of the 11th AAAI Conference on Web and Social
Media (Association for the Advancement of Artificial Intelligence, Montreal, 2017),
pp. 280–289.
8.
E. Ferrara, First
Monday 22, 2017 (2017).
9.
J.
L. Kalla, D. E. Broockman, Am. Polit. Sci. Rev. 112, 148 (2018).
10.
B. Swire et
al., J. Exp. Psychol. Learn. Mem. Cogn. 43, 1948 (2017).
11.
U.
K. H. Ecker et al., J. Appl. Res. Mem. Cogn. 6, 185 (2017).
14.
E. Bakshy et
al., Science 348, 1130 (2015).
Supplementary Materials